Being a Mom

Words are not enough to describe all emotions I feel during my 38 weeks pregnancy and the time after I have my baby. 

Selama hamil, walaupun tiap bulan di-USG dan sedikit demi sedikit merasakan tendangan yang semakin kuat, rasanya masih susah dipercaya kalau ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam perut saya. Bahkan sampai ketika si bayi diletakkan di atas tubuh saya sesaat setelah lahir, rasanya saya masih susah percaya. It feels unreal until it gets real. 

Jangan ditanya rasa sakitnya saat hamil dan melahirkan. Semua terasa, mulai dari sakit pinggang, kram kaki tengah malam, sesak karena heartburn, dan rasa mulas yang luar biasa. Saya sudah pernah ‘diperingatkan’ oleh suster-suster dan ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan soal rasa mulas ini dalam berbagai sesi senam hamil tapi I guess nothing can really prepare you for it than the experience itself. Rasanya penjelasan kalau mulas sebelum melahirkan itu seperti mau buang air besar adalah pernyataan yang terlalu sederhana dan underrated. Memang rasanya seperti itu tapi jauh, jauh, jauh lebih hebat. Belum lagi saat dijahit setelah melahirkan dan konstipasi yang menyusul sampai 2 bulan setelahnya.

Hebatnya, Allah menciptakan wanita dengan kemampuan menahan semua rasa sakit itu. Makhluk kecil yang keluar dari perut kita tumbuh semakin menakjubkan dan membuat kita lupa semua rasa sakit yang pernah terasa selama hamil dan melahirkan dia ke dunia.

It’s indescribable. Suddenly our world changes. I am no longer who I am before. Rasanya saya sanggup berkorban apa saja untuk memastikan makhluk kecil ini tumbuh sehat. Our child becomes our source of happiness and sorrow. Saat dia tidur dengan tenang rasanya hati ini damai dan bahagia. Saat dia menangis terisak karena harus diimunisasi, diambil darah untuk tes lab, atau ditindik, rasanya hati saya perih sekali. Tapi saya percaya semua Ibu berusaha mengambil keputusan terbaik untuk anaknya, diimunisasi atau tidak, asi atau sufor, ditindik atau tidak, dsb. Tentu saja harus rajin mencari informasi, lewat internet atau bertanya pengalaman orang-orang, lalu dipilah-pilah lagi sesuai yang kita yakini cocok untuk anak kita.

Setelah menjadi Ibu baru saya tahu rasanya di-judge dan dikomentari orang-orang soal keputusan kita untuk anak yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah memang saya mengambil keputusan yang benar, apa saya Ibu yang kejam dengan keputusan yang saya ambil ini, apa anak saya tersiksa dengan keputusan saya. Pantas saja ada istilah ’emak-emak baper’ karena memang begitulah rasanya.

Itulah kenapa saat bertemu dengan ibu-ibu muda lain saya berusaha keras menjaga perkataan, membesarkan hati dan menenangkan mereka dengan pengalaman saya, karena saya tahu rasanya tidak enak di-judge. Bulan-bulan pertama setelah melahirkan rasanya sangat stressful karena bayi selalu terbangun, ibu capek kurang tidur dan tidak bisa beraktivitas lain. Tidak perlulah kita menambah keruwetan dengan komentar-komentar yang kurang sedap. Lebih baik cari cara yang baik untuk menyampaikan masukan.

Jadi, untuk para Ibu lama dan Ibu baru, keep smile ya. It’s all worth it 🙂

 

 

Advertisements