Pengalaman Naik Pesawat membawa Bayi

 

Saya pertama kali membawa anak saya, Alya, naik pesawat ketika umurnya 3 bulanan. Dekat saja, Jakarta-Solo. Sempat agak khawatir tentang batasan umur minimal bayi naik pesawat tapi setelah browsing ternyata dari umur 2 minggu (bahkan 2 atau 3 hari) pun sudah bisa terbang (dalam hal ini perlu surat keterangan sehat dari dokter).

Waktu itu saya naik Citilink dan cuma ditanya umur bayi ketika check-in, udah deh. Sempat agak khawatir saat lewat pemeriksaan X-ray (takutnya radiasinya membahayakan) jadi nanya dulu sama petugas, apakah aman untuk bayi. Tapi sepertinya petugas juga kurang yakin jadi Alya digendong Ibu saya diperiksa langsung oleh petugas tanpa melewati pemeriksaan X-ray (yang ternyata cukup aman untuk bayi menurut artikel ini). Lalu kami menunggu di ruang menyusui sampai waktunya boarding.

Begitu naik pesawat, pramugari memberikan sabuk pengaman tambahan (dan pelampung) untuk Alya dan membantu memasangnya. Setelah posisi sudah nyaman, Alya langsung saya susui dan dia langsung tertidur pulas bahkan sebelum pesawat lepas landas. Khawatir karena katanya bayi harus disusui supaya telinganya tidak sakit, saya ganggu sedikit tidurnya. Tapi anaknya sudah tidak bergeming, jadi yasudahlah saya biarkan. Alhamdulillah tidur, jadi tidak rewel dan tidak mengganggu penumpang lain (kekhawatiran selanjutnya). Dan ternyata tidurnya tamat sampai Solo! hahaha… (Setelah cari info lebih lanjut, ternyata dalam keadaan tidur, perubahan tekanan udara pada kabin tidak akan mempengaruhi tekanan dalam gendang telinga, jadi aman).

Iya, naik pesawat bersama bayi memang penuh kekhawatiran. Tapi penting bagi ibu untuk tetap tenang karena kalau panik, bayi juga bisa merasakan hal yang sama. Seperti waktu perjalanan pulang Solo-Jakarta, Alya menangis terus dari sebelum lepas landas, bahkan tidak mau disusui. Sepertinya dia kurang nyaman dengan suasana pesawat yang sempit dan sumpek. Selain itu, popoknya basah. Saat itu, dia memang sedang sangat sensitif dengan popok basah, pipis sedikit selalu minta diganti. Jadilah saya dibantu ibu, kasak kusuk mengganti popok bayi di tempat duduk saat pesawat baru lepas landas. Setelah diganti, dia masih tetap menangis, haduh saya panik. Saya ajak main, saya angkat supaya bisa liat-liat sekitar pesawat, cuma berhenti menangis sebentar. Saya keluarkan mainannya, saya alihkan perhatiannya sampai akhirnya pramugari menyampaikan kalau sebentar lagi akan mendarat. Untung Solo-Jakarta itu dekat yah. Karena sudah mau mendarat, saya coba susui lagi eh dia langsung tertidur.

Perjalanan selanjutnya dari Jakarta-Surabaya waktu umurnya sudah menginjak 5 bulan. Waktu itu saya naik Batik Air dari Bandara Halim Perdana Kusuma (nursery room-nya besar dan bagus! dan lebih bagus dibanding nursery room di ruang tunggu non-Batik Air). Saya diminta menandatangani surat pernyataan yang intinya sih kalo ada apa-apa sama bayi saya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Alhamdulillah, Alya tidur pulas dari mulai naik pesawat (lagi-lagi tidur sebelum lepas landas) sampai rumah. Tapi anehnya, pulang dari Surabaya ke Jakarta agak rewel lagi. Sepertinya dia ngga mau balik Jakarta, hehe..

Mungkin pada bertanya-tanya, kok saya rajin amat bawa bayi naik pesawat masih kecil begitu. Tidak lain tidak bukan karena saya mau bawa dia terbang lebih jauh lagi menyusul suami yang sedang sekolah di Amerika. Jadi penting bagi saya untuk memastikan kalau dia punya pengalaman terbang sebelum melakukan perjalanan lebih jauh dan lebih lama lagi. Selain itu, supaya saya juga lebih siap lahir dan batin dalam mempersiapkan segala kebutuhan dia. Untuk orang dewasa saja perjalanan nanti ini termasuk berat, apalagi buat bayi sekecil itu (belum 6 bulan). Kekhawatiran terbesar saya cuma satu, dia ngamuk di pesawat sementara penerbangan masih jauh dari selesai dan penumpang lain merasa terganggu.

H-1 Alya tiba-tiba demam, batuk pilek dan sakit mata! Haduuuh panik banget, langsung buru-buru ke rumah sakit. Khawatir banget, apalagi dokter bilang kalau bayi sebenarnya tidak disarankan melakukan perjalanan jauh dalam kondisi batuk pilek karena saluran pendengarannya sedang sangat rentan. Dan saya lebih khawatir lagi kalau nanti sudah sampai tujuan ternyata malah harus dikarantina karena kena scan panas tubuh. Haduuuh, amit-amit. Untungnya keluarga lagi ngumpul di rumah jadi semua memastikan saya makan dan minum yang banyak dan sehat sehingga Alya cukup disusui supaya cepat sembuh. Alhamdulillah besoknya kondisinya agak baikan walaupun belum sembuh total.

Tibalah hari keberangkatan kami. Rute yang akan kami tempuh adalah:

  • Jakarta-Hongkong
  • Hongkong-Vancouver
  • Vancouver-New York
  • New York-Pittsburgh

Bacanya aja udah capek yah, haha.. Total perjalanan sepertinya hampir satu hari.

Bismillah aja deh..

Saya berangkat bersama Papa dan satu temannya yang bekerja sebagai tour guide. Semua peralatan yang kira-kira diperlukan sudah saya masukkan semua dalam satu koper kabin dan tas ransel. Untungnya Alya masih full ASI sehingga barang-barang yang diperlukan hanya pakaian, popok, mainan dan minyak telon. Karena membawa bayi, saya dapat tempat duduk di bagian depan. Setelah pesawat lepas landas, pramugari memasang bassinet (keranjang bayi) untuk meletakkan Alya saat kondisi aman untuk lepas sabuk pengaman. Tapi kalo ada pengumuman pasang sabuk pengaman, bayi harus dipangku lagi dan dipasangin sabuk pengaman walaupun baru ditaruh di bassinet dan sedang tidur pulas. Dan pengumuman ini berulang seriing sekali karena pesawat beberapa kali mengalami turbulensi, jadi Alya tidurnya kurang nyenyak, sementara saya dan Papa malah tidak bisa tidur sama sekali. Papa memastikan saya minum banyak dan makan cukup supaya anak saya tidak rewel. Yang bikin agak repot adalah lampu pesawat terus dimatikan supaya penumpang bisa tidur tapi saya jadi kurang leluasa mengajak Alya main di saat dia sedang segar-segarnya. Sempat saya setelkan in-flight entertainment tapi karena gelap layarnya jadi terlalu terang, takutnya malah bikin sakit mata. Jadi mau tidak mau dia juga banyak tidur sehingga saya harus terus memastikan ASI saya cukup.

Alhamdulillah perjalanan Jakarta-Hongkong lumayan lancar. Transit 4 jam di Hongkong, saya tidurkan Alya di bangku agar lebih leluasa dan saya bisa sedikit istirahat. Lanjut lagi rute selanjutnya. Saya dan Papa sempat sedikit kecewa karena menyangka kalau perjalanan dari Hongkong akan langsung menuju New York tapi alhamdulillah Allah memang tahu yang terbaik, karena dengan transit dulu di Vancouver Alya bisa sedikit refreshing suasana sehingga mood-nya lumayan bagus.

Tidur di Bandara Hongkong

Perjalanan yang terberat adalah dari Vancouver ke New York. Sepertinya Alya sudah sangat capek, disamping lagi ngga enak badan. Jadi sepanjang perjalanan terus menerus menangis. Saya minum banyaak sekali tapi entah kenapa sepertinya ASI hanya keluar sedikit. Saya ajak jalan-jalan tapi anaknya tetap menangis hingga mendarat di Bandara JFK. Maklum, capek, sakit dan sumpek. Wajar sih, kita aja capek banget. Alhamdulillah di JFK lumayan anteng setelah ganti baju dan dikasih minyak telon. Ngga lama dia tidur deh.

Sampai di Bandara JFK, New York

Masih sisa 1 rute lagi, ffiuuuhh… Transitnya lama 8 jam. Dan sejam sebelum berangkat dia ngamuk sengamuk-ngamuknya di JFK! Nangis kenceng banget semua bule sampe ngeliatin, prihatin dan berharap ngga sepesawat sama kita. Kehabisan akal, Papa akhirnya ngasih saran supaya Alya dikasih obat pileknya aja biar bisa tidur dan istirahat. Alhamdulillah manjur! 15 menit sebelum boarding dia pules tidur teruus sampe Pittsburgh. Alya saya pangku terus di penerbangan ini karena pesawatnya kecil jadi ngga disediain sabuk pengaman dan pelampung untuk bayi. Mungkin karena itu juga dia pules tidurnya yah.

Akhirnya sampeeee!! Perjalanannya sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah akhirnya ketemu suami. Ke apartemen naik Uber terus istirahat deh. Jetlag sampe berminggu-minggu but it’s okay. We’re finally here!


Berikut saya kasih saran-saran tambahan untuk yang mau melakukan perjalanan jauh dengan bayi naik pesawat yah. Mudah-mudahan membantu.

  • Pilih jadwal penerbangan yang dekat jadwal tidur anak, supaya perjalanannya sedikit lebih ringan.
  • Pertimbangkan usia anak (dan cuaca di negara tujuan). Waktu itu saya memutuskan berangkat saat usia anak saya belum 6 bulan (tepatnya 5 bulan 3 minggu) supaya urusannya lebih ringan: hanya menyusui, belum perlu ngasih makan. Suami sudah berangkat dari sejak bulan Juli, saat usia Alya hampir 2 bulan. Saya punya waktu sekitar 3 bulanan untuk mengurus dokumen-dokumen Alya dan menunggu dia lebih kuat kondisinya. Saya memutuskan berangkat akhir November dengan perkiraan semua dokumen Alya sudah selesai dan karena masih musim gugur, belum masuk musim dingin. Saya menyiapkan beberapa lapis baju dan jaket untuk Alya supaya saat sampai nanti tidak terlalu kaget dengan cuaca yang sangat dingin dibanding Bekasi! Tapi ternyata malah saya yang kedinginan karena koper saya yang isinya jaket malah ketinggalan di ruang tunggu Bandara JFK, lupa dimasukin pesawat sama petugasnya haduuh…
  • Siapkan peralatan dalam satu tas: makanan, mainan favorit anak, popok dsb. Saat harus ganti popok saya cukup bawa satu kantong agar praktis. Alya bosen atau laper tinggal ambil mainan atau biskuit. Untuk hiburan, karena dia suka banget nonton PINKFONG di YouTube jadi saya bela-belain download video 1,5 jam itu dan disimpen di HP supaya bisa dinyalain sewaktu-waktu kalau darurat. Jangan lupa HP disetel ke airplane mode sebelum take off.
  • Ibu harus banyak minum, bawa cemilan. Penting banget, karena anak pasti akan terus menyusu.
  • Selain itu, Ibu harus tenang supaya anaknya juga lebih tenang. Saya khawatir sekali kalau-kalau ketidaknyamanan Alya mengganggu penumpang lain. Saya sempat baca ada Ibu-ibu yang akan terbang jauh dengan bayinya (seperti saya) yang membagikan bingkisan berisi snack dan earplug untuk penumpang lain sebagai (sedikit) kompensasi jikalau anaknya ngamuk dan mengganggu kenyamanan. Waduuuh, tapi saya tidak punya waktu untuk bikin seperti itu. Akhirnya setiap Alya menangis kencang (beberapa kali), yang saya lakukan hanya berusaha bersikap tenang, kemudian menenangkan dia dengan mengajak main, membaca buku, nonton, ngobrol, jalan-jalan ke belakang, bersenandung, menyanyi, dan lain sebagainya. Segala cara dicobain aja Ibu-ibu. Jangan panik dulu yah, hehe..
  • Don’t be too strict. Saya bertekad banget Alya harus ASI eksklusif sampe usia 6 bulan. Tapi mengingat ASI saya tidak terlalu berlimpah dan perjalanan ini sangat jauh, saya akhirnya merelakan tekad ini, berpikir logis dan mempersiapkan biskuit bayi yang ternyata sangat membantu mengisi perut Alya di saat saya perlu recharge makan untuk memproduksi ASI.
  • Minta ditemani keluarga. Saya ngga akan bohong. Perjalanan saya berat banget. Selain itu, karena duduk di depan, barang bawaan saya ternyata harus disimpan di bagasi kabin yang lumayan tinggi jadi ngga bisa segampang itu bolak-balik diambil. Saya sempat pengen banget pergi ditemani Mama, tapi alhamdulillah banget jadinya ditemani Papa sehingga saya bisa fokus ngurus Alya. Papa yang juga sama, tidak bisa tidur sama sekali selalu siap mengambilkan segala keperluan. Kami gantian memangku Alya di saat makan atau harus ke toilet. Dan karena ada teman Papa yang tour guide, alhamdulillah ada yang bantu mengurusi check-in, koper, perubahan tiket, imigrasi, transit, dll.
  • Terakhir, berdoa sama Yang Maha Kuasa supaya perjalanannya dimudahkan dan dilancarkan. Alhamdulillah, walaupun beberapa kali mendapat tatapan tidak suka dari penumpang yang terganggu oleh tangisan Alya, sepanjang perjalanan saya dapat tempat duduk di sebelah orang-orang yang baik (yang tidak komplain walaupun beberapa kali terbangun karena tangisan Alya), yang dengan sukarela membantu di saat saya sedang riweuh dan bisa memaklumi kondisi saya yang membawa bayi.

So, good luck and have a safe flight with baby ya Ibu-ibu! 🙂

 

Advertisements

Being a Mom

Words are not enough to describe all emotions I feel during my 38 weeks pregnancy and the time after I have my baby. 

Selama hamil, walaupun tiap bulan di-USG dan sedikit demi sedikit merasakan tendangan yang semakin kuat, rasanya masih susah dipercaya kalau ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam perut saya. Bahkan sampai ketika si bayi diletakkan di atas tubuh saya sesaat setelah lahir, rasanya saya masih susah percaya. It feels unreal until it gets real. 

Jangan ditanya rasa sakitnya saat hamil dan melahirkan. Semua terasa, mulai dari sakit pinggang, kram kaki tengah malam, sesak karena heartburn, dan rasa mulas yang luar biasa. Saya sudah pernah ‘diperingatkan’ oleh suster-suster dan ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan soal rasa mulas ini dalam berbagai sesi senam hamil tapi I guess nothing can really prepare you for it than the experience itself. Rasanya penjelasan kalau mulas sebelum melahirkan itu seperti mau buang air besar adalah pernyataan yang terlalu sederhana dan underrated. Memang rasanya seperti itu tapi jauh, jauh, jauh lebih hebat. Belum lagi saat dijahit setelah melahirkan dan konstipasi yang menyusul sampai 2 bulan setelahnya.

Hebatnya, Allah menciptakan wanita dengan kemampuan menahan semua rasa sakit itu. Makhluk kecil yang keluar dari perut kita tumbuh semakin menakjubkan dan membuat kita lupa semua rasa sakit yang pernah terasa selama hamil dan melahirkan dia ke dunia.

It’s indescribable. Suddenly our world changes. I am no longer who I am before. Rasanya saya sanggup berkorban apa saja untuk memastikan makhluk kecil ini tumbuh sehat. Our child becomes our source of happiness and sorrow. Saat dia tidur dengan tenang rasanya hati ini damai dan bahagia. Saat dia menangis terisak karena harus diimunisasi, diambil darah untuk tes lab, atau ditindik, rasanya hati saya perih sekali. Tapi saya percaya semua Ibu berusaha mengambil keputusan terbaik untuk anaknya, diimunisasi atau tidak, asi atau sufor, ditindik atau tidak, dsb. Tentu saja harus rajin mencari informasi, lewat internet atau bertanya pengalaman orang-orang, lalu dipilah-pilah lagi sesuai yang kita yakini cocok untuk anak kita.

Setelah menjadi Ibu baru saya tahu rasanya di-judge dan dikomentari orang-orang soal keputusan kita untuk anak yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah memang saya mengambil keputusan yang benar, apa saya Ibu yang kejam dengan keputusan yang saya ambil ini, apa anak saya tersiksa dengan keputusan saya. Pantas saja ada istilah ’emak-emak baper’ karena memang begitulah rasanya.

Itulah kenapa saat bertemu dengan ibu-ibu muda lain saya berusaha keras menjaga perkataan, membesarkan hati dan menenangkan mereka dengan pengalaman saya, karena saya tahu rasanya tidak enak di-judge. Bulan-bulan pertama setelah melahirkan rasanya sangat stressful karena bayi selalu terbangun, ibu capek kurang tidur dan tidak bisa beraktivitas lain. Tidak perlulah kita menambah keruwetan dengan komentar-komentar yang kurang sedap. Lebih baik cari cara yang baik untuk menyampaikan masukan.

Jadi, untuk para Ibu lama dan Ibu baru, keep smile ya. It’s all worth it 🙂