0

Things I wish I knew before I gave birth to my child

There are some things I wish I knew before I gave birth to my (first) child. I hope you’ll find it useful.

 

  • Whatever you’ll do with your baby, people will find something to comment about. My suggestions are to read a lot, google a lot, ask a lot and learn a lot. Then, just be firm with your decision. Mother knows what’s best for her children.

 

  • During the pregnancy, your belly will expand to accommodate the growth of the baby and you will feel itch all over it. I’ve been warned not to scratch it but no one can really feel how bad it was than myself. Indonesia is a tropical country, Jakarta is a hot metropolitan area, and the air conditioner in my office was broken. Because of those reasons above, I was sweating all over and feeling itches all over my body. I couldn’t bear and stand it so I scratched it again and again. Since I didn’t have full-body mirror and had not been able to look under my belly for months, I was quite shocked to find out that it was already full of purple, red and brown stripes or stretch marks. Four months after giving birth, they’re still there, unchanged, getting even more prominent. It is a badge of motherhood but if I can have it disappeared, I would be happier since it makes me lose some confidence of my body.

 

  • Moms who decide to breastfeed her baby probably won’t be in such a hurry to get a breast-pump after giving birth. But, consider having it sooner than later. Working moms should build their milk-stash early while work-at-home moms should also prepare a certain amount of it, just in case they need to leave the baby for a while.

 

  • First time moms should opt for manual breast pump in the beginning then shift to electric type after getting a steady amount of milk. I chose the electric type from the start for efficiency reason then realised that I did not get the satisfying amount of milk. I tried the manual pump and turned out getting better result.

 

  • You will end up having a lot of everything, especially if it is your first child. Just buy an adequate amount of each items ’cause there’s a big chance that you will get more as gifts from family and friends. For me, I ended up having a lot of baby blanket and bath towels, some of them are still in its packaging. And as I was saying before, because I used electric breast pump in the beginning, I also ended up stacking some bottles suitable for that pump but later neglected them after shifting to manual breast pump because they had different neck size. I also have different types of bottle-nipples which I don’t use anymore since: 1) the hole is too small for my baby and she got angry because it was quite difficult to suck the milk in, 2) The frequency of direct-breastfeeding is increased and she refuse to drink breastmilk from bottle.

 

  • Open your baby-gifts immediately. I delayed it cause I assumed that I will get the same stuffs over and over again while I needed something else. I bought what I need and found out that the unopened gift was exactly the stuff that I needed and had just bought earlier. What a bummer! I also got a lot of baby clothes specific for certain months and put it somewhere to be opened when my baby has reached that months. But babies grow fast and suddenly you ran out of clothes. Out of curiosity, I opened some clothes for 6 months-baby and found out that they were even already too small for my 3 months old baby! What a waste.

 

  • Rent rather than buy, think twice before rent. You don’t have to always buy everything, Nowadays, there’s an option to rent some stuffs to test out whether they are suitable for you or for your baby before finally buying it. But, even before rent, think again. Do you really need that item? Take me as an example. I was feeling the urge to buy baby car seat but I would only use it for a short moment. So I decided to get a baby car seat rent for 2 months since I wanted to get around everywhere with my baby without having to wait someone else to accompany me. Suddenly after renting, I didn’t feel like driving by myself cause my baby was always want to direct-breastfeed, the traffic was always terrible and it was much easier to get around everywhere with Uber. So, the baby car seat is still there, untouched and unused, until the rent time is up.

 

Well, that’s it for now. I will update more when I find out more later.

 

Advertisements
0

Being a Mom

Words are not enough to describe all emotions I feel during my 38 weeks pregnancy and the time after I have my baby. 

Selama hamil, walaupun tiap bulan di-USG dan sedikit demi sedikit merasakan tendangan yang semakin kuat, rasanya masih susah dipercaya kalau ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam perut saya. Bahkan sampai ketika si bayi diletakkan di atas tubuh saya sesaat setelah lahir, rasanya saya masih susah percaya. It feels unreal until it gets real. 

Jangan ditanya rasa sakitnya saat hamil dan melahirkan. Semua terasa, mulai dari sakit pinggang, kram kaki tengah malam, sesak karena heartburn, dan rasa mulas yang luar biasa. Saya sudah pernah ‘diperingatkan’ oleh suster-suster dan ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan soal rasa mulas ini dalam berbagai sesi senam hamil tapi I guess nothing can really prepare you for it than the experience itself. Rasanya penjelasan kalau mulas sebelum melahirkan itu seperti mau buang air besar adalah pernyataan yang terlalu sederhana dan underrated. Memang rasanya seperti itu tapi jauh, jauh, jauh lebih hebat. Belum lagi saat dijahit setelah melahirkan dan konstipasi yang menyusul sampai 2 bulan setelahnya.

Hebatnya, Allah menciptakan wanita dengan kemampuan menahan semua rasa sakit itu. Makhluk kecil yang keluar dari perut kita tumbuh semakin menakjubkan dan membuat kita lupa semua rasa sakit yang pernah terasa selama hamil dan melahirkan dia ke dunia.

It’s indescribable. Suddenly our world changes. I am no longer who I am before. Rasanya saya sanggup berkorban apa saja untuk memastikan makhluk kecil ini tumbuh sehat. Our child becomes our source of happiness and sorrow. Saat dia tidur dengan tenang rasanya hati ini damai dan bahagia. Saat dia menangis terisak karena harus diimunisasi, diambil darah untuk tes lab, atau ditindik, rasanya hati saya perih sekali. Tapi saya percaya semua Ibu berusaha mengambil keputusan terbaik untuk anaknya, diimunisasi atau tidak, asi atau sufor, ditindik atau tidak, dsb. Tentu saja harus rajin mencari informasi, lewat internet atau bertanya pengalaman orang-orang, lalu dipilah-pilah lagi sesuai yang kita yakini cocok untuk anak kita.

Setelah menjadi Ibu baru saya tahu rasanya di-judge dan dikomentari orang-orang soal keputusan kita untuk anak yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah memang saya mengambil keputusan yang benar, apa saya Ibu yang kejam dengan keputusan yang saya ambil ini, apa anak saya tersiksa dengan keputusan saya. Pantas saja ada istilah ’emak-emak baper’ karena memang begitulah rasanya.

Itulah kenapa saat bertemu dengan ibu-ibu muda lain saya berusaha keras menjaga perkataan, membesarkan hati dan menenangkan mereka dengan pengalaman saya, karena saya tahu rasanya tidak enak di-judge. Bulan-bulan pertama setelah melahirkan rasanya sangat stressful karena bayi selalu terbangun, ibu capek kurang tidur dan tidak bisa beraktivitas lain. Tidak perlulah kita menambah keruwetan dengan komentar-komentar yang kurang sedap. Lebih baik cari cara yang baik untuk menyampaikan masukan.

Jadi, untuk para Ibu lama dan Ibu baru, keep smile ya. It’s all worth it 🙂

 

 

0

Pregnancy+

Buat ibu-ibu yang baru pertama hamil kaya saya, saya saranin download aplikasi Pregnancy+ deh di HP. Membantu banget. Kan banyak tuh yang udah tau hamil pas masih awal-awal sambil ga tau apa-apa tea tapi buat nanya-nanya ke orang lain atau bahkan ke keluarga sendiri kok kaya terlalu awal juga yah. Nah, ini dia solusinya! (iklan pisan, kaya yang di-endorse aja haha..)

Tapi beneran deh, aplikasi ini lengkap banget infonya, dari apa yang terjadi tiap hari dan tiap minggunya sama tubuh dan jabang bayi kita saat hamil, panjang dan berat standar si bayi, ukurannya kira-kira udah segede apa tiap minggu, foto USG 2D dan 3D bayi, tracking berat badan kita, sampe tempat nyatet jadwal kunjungan ke dokter dan ide nama-nama bayi cewek atau cowok.

Saya yang tinggalnya jauh dari Ibu dan ga bisa setiap saat nanya juga ke Ibu mertua, terbantu banget sama segala informasi yang disediakan aplikasi ini. Di saat saya bingung ini badan kok rasanya gini ya. Mau nanya entar ketauan hamil, padahal belum mau bilang-bilang. Diem-diem aja malah panik dan khawatir sendiri. Eh, alhamdulillah info yang disediain hari itu ternyata ngejelasin tentang hal yang lagi saya pertanyakan itu. Jadi saya juga bisa cerita ke suami kalo ternyata keluhan saya yang kemarin-kemarin itu penyebabnya begini looh, blablablabla.. suami jadi ngga was-was lagi.

Tapi sayangnya, aplikasi ini cuma free sampai hari ke-99, begitu saya mau buka hari ke-100 ternyata harus bayar, hiks.. Sempet berkontemplasi beberapa lama sih, seminggu lebih ada kayanya, kira-kira worth it ngga sih bayar buat aplikasi ini, abis ngga punya kartu kredit. Tapi karena udah jadi kebiasaan tiap hari untuk ngecek info disini, selama beberapa hari ngga bisa akses aplikasi saya jadi merasa sedikit kehilangan arah, akhirnya bilang ke suami buat pinjem kartu kredit dan bayar kelanjutannya sampe tamat (ngelahirin). Harganya kalo ngga salah Rp 69ribu.

Begitu udah bisa diakses lagi, saya ngebut baca info seminggu terakhir yang saya ketinggalan dan nyesel banget kenapa pake mikir lama buat bayar aplikasi ini. Keluhan-keluhan saya selama seminggu terakhir ternyata ada jawabannya disini. Tapi yaudahlah, yang penting udah bisa lagi.

Lewat aplikasi ini saya juga jadi bisa ngebandingin berat badan bayi saya sama standar normalnya harusnya segimana. Eh ternyata, dari awal berat bayi saya udah jauh meninggalkan standar, haha.. Saya segala dimakan sih, soalnya ngga ada yang bikin mual atau muntah, semua makanan enak dan saya makan semua yang enak, hehe..

Picture1

Tapi paling kaget waktu kontrol di minggu ke-34, dokternya bilang minggu ini standarnya 2300-2400 gram ya Bu, eh anak saya ternyata 2600 gram lebih. Saya inget-inget lagi, terakhir kontrol itu hampir sebulanan yang lalu karena dokternya cuti makanya saya jadi ngerasa agak bebas dan banyak makan-minum yang dingin dan manis. Abisnya makin lama makin gerah banget, dan hanya makanan-minuman dingin manis yang bisa menyegarkan dahaga dan bikin saya hepi lagi. Eh, anaknya malah jadi kegedean. Dokter terus wanti-wanti, 2 minggu lagi beratnya saya harap tetep di kisaran ini yah. Waduh, gimana caranya ya dok?

2 minggu selanjutnya saya lewati dengan was-was, makan ngga tenang tapi tetep banyak, minuman dingin manis saya kurangiiin banget. Begitu kontrol, alhamdulillah berat badan saya ngga berubah jauh dari 2 minggu lalu, tapi begitu dicek dokter, eh anaknya ko malah nambah 300 gram jadi 2,9 kg!! Lemes deh sama panik. Harus gimana lagi biar anaknya ngga naik drastis berat badannya. Mana gula darah saya rendah, jadi kaya simalakama: kurang makan, berat anaknya ngga naik tapi saya pusing banget. Kalo makan, berat anaknya naik tapi saya seger. Emang lebih gampang itu naikin daripada nurunin yah.

“Ibu, ini anaknya udah 2,9 kg di minggu ke-36. Kalau mau lahir normal, jangan kegedean anaknya nanti Ibu susah ngeluarinnya. Mulai sekarang minumnya air putih aja, kurangin nasi dan yang manis-manis.”, dokter ngasih wanti-wanti lagi.

Hari pertama kedua setelah kontrol, saya jadi ngga makan nasi sama sekali tapi banyakin sayur dan lauk. Ibu saya yang udah mulai nemenin di rumah semenjak saya cuti terus nawarin nasi karena khawatir asupan nutrisi saya malah kurang tapi saya tetep nolak.

Tapi emang dasar lidah orang Indonesia ya, hari ketiga keempat saya ngga kuat terus makannya heboh lagi pake nasi porsi normal. Untungnya hari Sabtu, pas saya jadwal kontrol itu, hari pertama puasa Ramadhan ini, jadi saya ikutan puasa deh sambil khawatir jangan-jangan anaknya udah 3 kg lebih soalnya saya ngerasa perut saya makin gede aja kesini-kesini.

Begitu ketemu dokter, ditanya, “Berat bayinya minggu lalu berapa sih?”

“Kalo ngga salah 2,914 kg deh dok.”

“Ibu puasa?”

“Iya dok.”

“Bagus bagus,  ini berat anaknya turun dikit sih jadi 2,8 kg”

Wah, artinya sesuai standar berat bayi 37 minggu di Pregnancy+!! Alhamdulillah, senengnya luar biasa. Artinya seminggu ke depan saya bisa makan dengan tenang, haha.. Ternyata puasa ngaruh banget yah. Saya beberapa kali ngajak ngobrol bayi saya mencoba ngasih pengertian dan nguatin dia juga supaya ngga kaget diajak puasa.

Udah dari 3 minggu lalu dokter juga nanyain apa ASI saya udah keluar. Sayangnya belum sampe sekarang, khawatir lagi deh. Kenapa yah? Saya udah rajin bersihin, udah banyakin sayur tapi belum ada tanda-tanda kesitu. Dokter akhirnya nyaranin supaya frekuensi makan vitamin pelancar ASI-nya ditambahin jadi 2x sehari. Mudah-mudahan berhasil deh.

Minggu depan pas jalan 38 minggu, jadwalnya saya periksa panggul untuk menentukan apa saya bisa lahiran normal dan berapa baiknya ukuran bayi saya supaya bisa keluar dengan lancar lewat panggul saya. Sejauh ini sih dari hasil kontrol, posisi bayi saya kepalanya udah di bawah dan udah masuk rongga panggul makanya kadang kerasa sensasi keteken-keteken gitu. Artinya sebentar lagi nih, deg-degan deh.

Bismillah… Semoga dilancarkan dan diberi kemudahan. Mohon doanya ya 🙂

 

0

Maternity Leave

Some would prefer to start it as close as possible to the due date while I just want to start it as soon as I can regardless my due date.

I feel like my body and mental health can’t take it anymore.

This is my first pregnancy and I don’t know what to expect, or to be precise, what exactly I would face any time sooner.

I want to prepare my mind and body for whatever that will come, instead of facing workload at office and terrible traffic on my way to work and after.

I just hope my baby will come at the right time. Meanwhile, I’m doing everything I can to meet her sooner.

Yes, it’s a girl 🙂

0

Pregnancy without (too much) hassle

Alhamdulillah, sekarang udah masuk 7 bulan kehamilan. Kalau diinget-inget 7 bulan lalu gimana taunya lucu juga.

pregnant-woman-outline_23-2147501964

“Mmmm, aku tidak tau harus bereaksi bagaimana”, suami saya cengar-cengir salting waktu saya pertama kali ngabarin kalau saya hamil.

Saya bengong, speechless.

Mempertimbangkan karakter suami yang emang lempeng, saya emang ngga berharap dia bereaksi kaya di film-film dimana sang pemeran suami berteriak gembira lalu memeluk dan menggendong pemeran istri (ga bakal kuat juga sih).

Tapi saya berharap, at least, dia bilang, “Alhamdulillah, semoga blablabla…”, pokoknya yang menyejukkan hati deh, tapi ini ngga.

Terus saya jadi bete, haha..

Tapi terus saya mikir, kami sebelumnya pacaran 7 tahunan haha hihi huhu hehe terus. Setelah nikah, dalam waktu kurang dari 1 tahun banyak hal-hal yang jadi lebih serius, salah satunya ini dan wajar kalau dia kaget. Menjadi orangtua juga kan bukan tanggung jawab yang ringan. Banyak yang harus dipersiapkan. Dan setelah menikah, kami juga sebenernya sepakat untuk berdua dulu aja selama setahun pertama tapi tidak menunda untuk menerima kepercayaan seperti ini (previous post).

Tapi, seiring bulan demi bulan kandungan saya membesar, tanpa perlu kata-kata, saya tahu kalau suami jadi lebih considerate sama saya, walaupun agak ngedumel dikit, hehe.. Karena sebelumnya apa-apa saya ladenin, sekarang kalau di rumah jadi gantian ngeladenin. Dulu lebih sering dipijetin sekarang gantian mijetin karena badan saya sering pegel-pegel dan sakit pinggang. Dulu suka minta digarukin kalau punggung gatel, sekarang saya yang gantian minta digarukin karena tangan akrobat dikit suka kram. Dulu kalo pulang ngantor nyetir pusing terus minta gantian, sekarang ditawarin gantian nolak.

Tapi, alhamdulillah, walaupun banyak orang bilang kalau lagi hamil itu macem-macem ceritanya, lebih sensitif terutama, saya ngerasa biasa aja tuh (padahal ngga nyadar orang-orang di sekeliling ngerasanya gimana. Kalau saya lagi nyebelin itu sih emang dari dulu. Kalo lebih nyebelin lagi ya emang aslinya begitu, haha.. Bukan karena lagi hamil aja).

icon_lol

Saya happy-happy aja selama hamil. Malah yang dulu dikit-dikit berantem atau debat sama suami sekarang bisa diitung sama jari berapa kali marahnya selama hamil ini. Tapi pernah sih waktu itu entah kenapa, hormon lagi memuncak (yak, salahkan saja hormon) terus ngamuknya ruarrr biasaaaa.. Suami saya juga iseng sih orangnya (yak, pokoknya bukan salah saya)

Jadi ceritanya waktu itu lagi di jalan pulang, terus saya seperti biasa kan ngobrol sama suami terus nanya,

“Tadi siang makan apa, Jo?” (Bojo – Bahasa Jawa suami)

“Mmmmmm, kasih tau ngga yaaa?” biasaa tengil.

“Makan apaaaaa???” ga sabar.

“Coba tebaaak…”

Terus saya mulai nebak segala macem mulai dari Yoshinoya, Hokben sampe soto ayam, tapi ga ada yang bener.

“Makan apaaaaaaa…..!!!” mulai naik darah.

“Tebaaak….” masih nyebelin ga mau ngasitau.

“Tiga huruf..” mulai ngasih clue, tapi namanya lagi hamil, kadang otak suka agak susah dipake mikir.

“Tiga huruf..???” saya mikir tapi ga ada ide blas!

“Apa siiiiiihhhh? ABC? DEF?” saya mulai naik darah lagi.

“Masa ga tau sih, coba tebaak..” sekarang pake cengar-cengir.

Karena sebel saya manyun, biarin aja ah paling nanti juga ngasitau sendiri. Tapi entah kenapa waktu itu tuh saya rasanya kepo bingiiiiittttsss, pengen tau dia makan apa tadi siang. Sampe akhirnya ga ketahan lagi, saya nangis sejadi-jadinya terus pake mukul-mukul dan nyubit-nyubit padahal suami saya lagi nyetir di jalan.

“Kamu tuh jangan permainkan akuuuuu, huaaaa… aku tuh pengen tau kamu makan apaaaa, huaaaaa….” drama banget.

Suami saya kaget ngeliat saya marahnya sebegininya. Dia dieeem ajaa..

Sambil nangis tersedu-sedu saya masih mikir, tiga huruf apa sih yang suka dimakan suami saya. Ada kali 15 menit mikir ditambah manyun, baru deh keinget, KFC!!!!

Saya diem aja, terus pelan-pelan tangisnya reda, tapi masih bete.

Abis suami saya minta maaf terus saya dijajanin daging steak rib-eye (mureh anaknya) terus saya ngga bete lagi deh.

Yaah begitulah cerita marahnya, cuma itu aja yang parah.

Ngidam aneh-aneh juga ngga, cuma makan aja terus, dan pengen yang enak-enak (iya, kaya steak rib-eye yang dicoret tadi). Alhamdulillah masih bisa dibeliin suami atau dijangkau gojek. Mual juga kalau laper atau telat makan aja. Paling akhir-akhir ini heartburn dikit tapi disendawain terus dikasih yang anget-anget udah deh sembuh.

Pada satu kesempatan, pernah sampe Ibu mertua saya jawab gini waktu saya ditanyain Tante ngidam apa,

“Dia mah ngebo, enak wes.”

Saya kaget. Iya sih, saya suka ngebo, tidur terus, kalo weekend bangun kesiangan, kurang banyak bantuin di rumah tapi parah banget ya ma sampe dikatain ‘kebo’? 😥

Usut punya usut, ternyata artinya ngebo buat orang Jawa itu ya yang hamilnya ngga banyak permintaan kaya saya, ngga ngidam aneh-aneh, ngga mual parah. Kalo di Sunda kan istilah kebo buat ngatain yang pemalesan, yaa emang jadi males sih soalnya berasa capek terus (halah, alasan).

Tapi yang paling bikin saya shocked adalah stretchmark di perut bawah. Dari awal hamil udah pernah dibilangin sih kalo gatel jangan digaruk, jadi saya rajin pake body butter. Tapi gatelnya paraaaahh, udah pake body butter juga tetep aja ngga ketahan jadi sadar ngga sadar saya suka garukin dari luar. Taunya setelah ngaca (kayanya pas 6 bulanan) udah bergurat-gurat merah, coklat, ungu doooongg, hikss.. sedih, balikinnya gimana yah.

Katanya sih nanti warnanya memudar tapi guratan-guratannya ga akan ilang.

die

Ya udahlah gimana entar aja.

Karena udah lewat 28 minggu, saya udah mulai ikut senam hamil juga. Terus ketemu sama banyak ibu-ibu muda yang senasib perutnya, haha.. Terus ngobrol sama salah satunya,

“Udah berapa minggu, mbak?” saya nanya memulai percakapan.

“Saya udah 30 minggu.”

“Wah, mau masuk 8 bulan dong yah”

“Eh, enggak! Saya bulan kemarin baru 6 bulan kok”

“Loh, 6×4 kan 24, 8×4 = 32”

“Masa sih, bukannya 6×4 = 32 yah?”

“Bukaaaaaaan, 6×4 = 24!!”

“Hah? Iya yah, salah dong saya. Maklum lah ya, kalo hamil suka agak dong-dong”

Iya deeeeeehh, seenggaknya saya bukan yang paling parah, hihihiii…

con_redface

Entar lanjut lagi ya ceritanya, hehe…

0

Never ending question

belly-size-pregnancy-mom

Tulisan tahun lalu, beberapa bulan sebelum hamil 😀

Indonesian people have a special interest in other people’s life. Sometimes too much.

  • “Have you got any boyfriend/girlfriend?”
  • “When are you going to get married?”
  • “Are you pregnant yet?”
  • “When will you give your child siblings?”
  • Blablabla…

I have passed the moment when people asked me the first two questions.

However, they are now shifting to the question number three.

Deep inside, I have a mixed feeling about this.

My husband and I prefer to enjoy the first year without baby, just the two of us.

But we aren’t delaying it.

If I get pregnant during the first year, it’s a blessing.

But I know that both of us are not ready yet. It is a big and serious responsibility. We just need a little bit time to be prepared mentally.

However, the pressures bothered me a lot. The questions keep on coming from many, along with some beliefs on the consequences of delaying the pregnancy.

I know that it was some kind of positive attention, that it wasn’t intended to pressure me or anything, but it does the opposite. It put me under a lot of pressure.

My husband will study abroad next year and I want to accompany him. I want to get pregnant and give birth when I am close to him.

I want to have baby when I am ready and no one can force me when I am not.

So, let’s be patient and reply the third question politely.

Meanwhile,

think about this issue: Mind your own womb.

2

Ngga betah

Kali ini saya mau nulis dalam bahasa Indonesia aja deh, meminimalisir kemungkinan ketahuan sama orang sini yang sangat menjunjung tinggi ‘good image‘ sebusuk apapun keadaan aslinya.

Saya sekarang sedang menyelesaikan tahun kedua studi master saya di salah satu negara tetangga Indonesia. Buat yang pernah baca tulisan saya sebelumnya di blog ini mungkin bisa tahu dimana saya sekarang (ngga akan saya sebutkan lagi karena alasan yang sudah disebutkan di atas). Tinggal disini sebenarnya oke-oke aja, banyak banget yang bisa disyukuri: uang beasiswa saya mencukupi, saya bisa patungan nyewa apartemen yang keadannya lumayan bagus berdua sama temen sekelas, dan keramaian dan skala kotanya juga mirip sama Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Karena kedekatan geografi, ada juga kedekatan budaya dan kesamaan karakter dengan orang-orang Indonesia. Hal-hal ini harusnya bikin saya jadi salah satu yang paling siap secara mental diantara temen-temen saya yang rata-rata berasal dari Benua Eropa, Amerika Latin dan Afrika, yang harus menghadapi tempat baru, orang-orang baru, budaya baru dan semuanya yang baru. Harusnya saya jadi yang paling nyaman dengan kondisi hidup disini, paling bisa beradaptasi dengan baik, paling menikmati segala keadaan disini. Tapi nyatanya ngga. Saya jadi yang paling kecewa disini,

Andai saja persiapan studi dari pihak universitas ngga sekacau ini. Andai saja di hari ketiga saya disini, saya sama 2 temen saya ngga diteriakin sama Kepala Program Studi Pascasarjana hanya gara-gara menuntut hak untuk ngambil beasiswa di saat mereka ngga menyediakan informasi sama sekali tentang kondisi yang harus dipenuhi untuk ngambil beasiswa. Andai saja kualitas pendidikan disini baik (sama ITB aja masih kalah jauh). Andai saja fakultas punya kerjaan lain yang lebih penting daripada memperkarakan status Facebook temen saya yang nyentil renovasi lobi gedung dan orang-orang yang ikut nge-like dan komentar disitu, termasuk saya.

Terlambat dan telak. Kesan saya terhadap kota dan negara ini udah terlanjur jadi jelek banget gara-gara orang kampus. Ditambah pengalaman pergi kesana kemari disini yang seringkali ditipu supir taksi bikin saya jadi antipati banget sama semua hal disini. Saya ngga semangat menjelajah negara baru kaena sering ditipu, saya males bersosialisasi sama orang-orang lokal karena mereka tukang gosip dan pundungan. Yang pengen saya lakuin cuma dua: cepet-cepet beresin kuliah saya dan pergi dari sini.

Mungkin saya ketemu orang-orang yang salah, mungkin tinggal disini sebenarnya ngga seburuk yang saya pikirkan. Tapi sayangnya, kesan saya masih sama bahkan setelah 5 bulan tinggal disini.