Ngga betah

Kali ini saya mau nulis dalam bahasa Indonesia aja deh, meminimalisir kemungkinan ketahuan sama orang sini yang sangat menjunjung tinggi ‘good image‘ sebusuk apapun keadaan aslinya.

Saya sekarang sedang menyelesaikan tahun kedua studi master saya di salah satu negara tetangga Indonesia. Buat yang pernah baca tulisan saya sebelumnya di blog ini mungkin bisa tahu dimana saya sekarang (ngga akan saya sebutkan lagi karena alasan yang sudah disebutkan di atas). Tinggal disini sebenarnya oke-oke aja, banyak banget yang bisa disyukuri: uang beasiswa saya mencukupi, saya bisa patungan nyewa apartemen yang keadannya lumayan bagus berdua sama temen sekelas, dan keramaian dan skala kotanya juga mirip sama Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Karena kedekatan geografi, ada juga kedekatan budaya dan kesamaan karakter dengan orang-orang Indonesia. Hal-hal ini harusnya bikin saya jadi salah satu yang paling siap secara mental diantara temen-temen saya yang rata-rata berasal dari Benua Eropa, Amerika Latin dan Afrika, yang harus menghadapi tempat baru, orang-orang baru, budaya baru dan semuanya yang baru. Harusnya saya jadi yang paling nyaman dengan kondisi hidup disini, paling bisa beradaptasi dengan baik, paling menikmati segala keadaan disini. Tapi nyatanya ngga. Saya jadi yang paling kecewa disini,

Andai saja persiapan studi dari pihak universitas ngga sekacau ini. Andai saja di hari ketiga saya disini, saya sama 2 temen saya ngga diteriakin sama Kepala Program Studi Pascasarjana hanya gara-gara menuntut hak untuk ngambil beasiswa di saat mereka ngga menyediakan informasi sama sekali tentang kondisi yang harus dipenuhi untuk ngambil beasiswa. Andai saja kualitas pendidikan disini baik (sama ITB aja masih kalah jauh). Andai saja fakultas punya kerjaan lain yang lebih penting daripada memperkarakan status Facebook temen saya yang nyentil renovasi lobi gedung dan orang-orang yang ikut nge-like dan komentar disitu, termasuk saya.

Terlambat dan telak. Kesan saya terhadap kota dan negara ini udah terlanjur jadi jelek banget gara-gara orang kampus. Ditambah pengalaman pergi kesana kemari disini yang seringkali ditipu supir taksi bikin saya jadi antipati banget sama semua hal disini. Saya ngga semangat menjelajah negara baru kaena sering ditipu, saya males bersosialisasi sama orang-orang lokal karena mereka tukang gosip dan pundungan. Yang pengen saya lakuin cuma dua: cepet-cepet beresin kuliah saya dan pergi dari sini.

Mungkin saya ketemu orang-orang yang salah, mungkin tinggal disini sebenarnya ngga seburuk yang saya pikirkan. Tapi sayangnya, kesan saya masih sama bahkan setelah 5 bulan tinggal disini.

Advertisements

2 thoughts on “Ngga betah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s