I love Indonesia

My country and its people are far from perfect. I have been complaining a lot about numerous unbelievably annoying situations from politics, corruption, red tape, economic problems, poverty, environmental degradation to people’s behavior. And I don’t intend to stop anytime in the future.

But I love my country, even with all its negativities and absurdity. Every Indonesian will think the same way, too.

We have so much problems but guess what, research proved that we are among the happiest country in the world! This is hilarious. I even got into serious discussion with my family to talk about this. And we came into conclusion that this is happened because of our general mindset to take everything easy and stay positive everytime we face problems, hahaha… You want proofs? Check this out: http://www.wowshack.com/dont-let-the-floods-get-you-down/

No wonder a lot of foreigners also fall in love with Indonesian culture, aside from its natural landscape. Another proof? Check this video out: a play by ANU’s students, performed in Javanese language, the most spoken local language in Indonesia. They even do better than most of us. Thumbs up! 😀

Advertisements

Ngga betah

Kali ini saya mau nulis dalam bahasa Indonesia aja deh, meminimalisir kemungkinan ketahuan sama orang sini yang sangat menjunjung tinggi ‘good image‘ sebusuk apapun keadaan aslinya.

Saya sekarang sedang menyelesaikan tahun kedua studi master saya di salah satu negara tetangga Indonesia. Buat yang pernah baca tulisan saya sebelumnya di blog ini mungkin bisa tahu dimana saya sekarang (ngga akan saya sebutkan lagi karena alasan yang sudah disebutkan di atas). Tinggal disini sebenarnya oke-oke aja, banyak banget yang bisa disyukuri: uang beasiswa saya mencukupi, saya bisa patungan nyewa apartemen yang keadannya lumayan bagus berdua sama temen sekelas, dan keramaian dan skala kotanya juga mirip sama Jakarta atau kota-kota Indonesia lainnya. Karena kedekatan geografi, ada juga kedekatan budaya dan kesamaan karakter dengan orang-orang Indonesia. Hal-hal ini harusnya bikin saya jadi salah satu yang paling siap secara mental diantara temen-temen saya yang rata-rata berasal dari Benua Eropa, Amerika Latin dan Afrika, yang harus menghadapi tempat baru, orang-orang baru, budaya baru dan semuanya yang baru. Harusnya saya jadi yang paling nyaman dengan kondisi hidup disini, paling bisa beradaptasi dengan baik, paling menikmati segala keadaan disini. Tapi nyatanya ngga. Saya jadi yang paling kecewa disini,

Andai saja persiapan studi dari pihak universitas ngga sekacau ini. Andai saja di hari ketiga saya disini, saya sama 2 temen saya ngga diteriakin sama Kepala Program Studi Pascasarjana hanya gara-gara menuntut hak untuk ngambil beasiswa di saat mereka ngga menyediakan informasi sama sekali tentang kondisi yang harus dipenuhi untuk ngambil beasiswa. Andai saja kualitas pendidikan disini baik (sama ITB aja masih kalah jauh). Andai saja fakultas punya kerjaan lain yang lebih penting daripada memperkarakan status Facebook temen saya yang nyentil renovasi lobi gedung dan orang-orang yang ikut nge-like dan komentar disitu, termasuk saya.

Terlambat dan telak. Kesan saya terhadap kota dan negara ini udah terlanjur jadi jelek banget gara-gara orang kampus. Ditambah pengalaman pergi kesana kemari disini yang seringkali ditipu supir taksi bikin saya jadi antipati banget sama semua hal disini. Saya ngga semangat menjelajah negara baru kaena sering ditipu, saya males bersosialisasi sama orang-orang lokal karena mereka tukang gosip dan pundungan. Yang pengen saya lakuin cuma dua: cepet-cepet beresin kuliah saya dan pergi dari sini.

Mungkin saya ketemu orang-orang yang salah, mungkin tinggal disini sebenarnya ngga seburuk yang saya pikirkan. Tapi sayangnya, kesan saya masih sama bahkan setelah 5 bulan tinggal disini.