Sistem Pendidikan Indonesia

Dari dulu saya pengen nulis tentang sistem pendidikan di Indonesia, baru sekarang bener-bener ketulis. Bukan karena saya sudah punya analisis matang (didukung data-data terkini yang akurat) mengenai apa kelebihan dan kekurangan sekolah disini dan gimana perbandingannya sama sistem pendidikan di negara lain, tapi karena sebagai salah satu lulusan dari didikan Indonesia saya ngerasa berbagai kurikulum dan metode yang menjadi koridor dalam penerapan sistem pendidikan di Indonesia kurang tepat menyasar potensi masing-masing individu.

Yang saya amati dari awal sederhana aja, bahwa anak-anak SD jaman sekarang tasnya udah koper. Saya kasian liat adik-adik saya sekolah dulu, tasnya besar-besar, sebentar-sebentar rusak karena menahan beban yang tidak selayaknya. Dan semakin lama pelajarannya makin susah, yang saya aja udah ga kebayang cara jawabnya. Saya kagum sama anak-anak yang jago matematika, sains dan lainnya, dan saya yakin peluang mereka sukses di masa depan  cukup besar tapi apa memang kemampuan yang kita perlukan dari generasi penerus kita adalah hal-hal kognitif semata? Bagaimana dengan attitude dan moral? Pendidikan dasar terutama SD jadi pendidikan yang fundamental dalam menentukan arah perkembangan anak. Seharusnya yang diutamakan adalah pendidikan moral dan pendidikan kreativitas, tidak melulu education based on textbook. Saya yakin kalau dari SD anak sudah menemukan apa yang dia suka kerjakan, akan lebih mudah bagi dia ke depannya dalam mencari sekolah.

liat pada riang gembira gini mau sekolah :)

liat pada riang gembira gini mau sekolah 🙂

Anak atasan saya kebetulan sempat beberapa tahun sekolah di Australia dan beliau sempat bercerita tentang bagaimana pendidikan dasar di Australia berlangsung. Orangtua harus terlibat secara aktif saat anaknya sekolah. Di beberapa kesempatan harus ikut kerja bakti, berbicara di depan kelas anaknya mengenai pekerjaan mereka, dan masih banyak tanggung jawab lainnya. Dari baca komik Jepang dan nonton anime, saya juga jadi tahu kalau di Jepang, selain bertanggung jawab atas kebersihan kelasnya, anak juga bertanggung jawab membersihkan kamar mandi dan membagikan makan siang teman-temannya. Disinilah peran orangtua menjadi sangat penting karena mereka harus memastikan hal-hal yang dijalankan di sekolah juga dijalankan di rumah.

Belum lagi soal menjaga teman. Atasan saya bercerita bahwa di kelas anaknya dulu ada anak yang memiliki kekurangan secara fisik. Reflek beliau bertanya pada anaknya bagaimana dia mengikuti kegiatan-kegiatan kelas karena pasti sulit. Anaknya menjawab dengan nada cukup tersinggung, “Ibu ko gitu sih nanyanya? Kata Ibu Guru dia tanggung jawab bersama teman-teman sekelas dan kita semua harus ngejaga dan bantuin dia.” Atasan saya kaget dan merasa bersalah karena secara tidak sadar pandangan biasa orang Indonesia-nya muncul.

Iya sih, kalau dipikir-pikir di Indonesia mana ada orangtua yang tega memasukkan anaknya yang ‘kekurangan’ ke sekolah yang sama dengan anak-anak normal (walaupun dari segi kecerdasan dia mampu). Wah bisa habis jadi bahan olokan. Si anak jadi rendah diri dan potensinya sulit menonjol karena dia merasa berbeda dan kurang mampu bersaing dengan anak-anak lainnya.

Perlakuan kebanyakan dari kita terhadap orang yang ‘kekurangan’ memang masih keliru padahal mereka punya hak yang sama untuk belajar, bekerja dan beraktivitas tapi tidak tersedia sarana yang memadai. Yang membuat sadar secara nurani menurut saya karena akhir-akhir ini banyak diangkat cerita tentang orang-orang yang fisiknya kurang sempurna tapi tekadnya besar untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata.

Kalau seperti ini, sekolah dasar yang mungkin memenuhi ekspektasi saya (buat anak saya nanti, hehe..) selain sekolah dasar di luar negeri mungkin hanya sekolah alam yah, tapi jika ingin meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lulusan sekolah alam kadang masih suka diragukan kemampuannya dalam menghasilkan siswa-siswi yang capable padahal able-able aja tuh. Dianggapnya karena tidak tiap hari berkutat dengan buku pelajaran makanya kurang biasa sama ujian-ujian yang jadi standar seleksi pendidikan formal.

Di SMA siswa kemudian dikotak-kotakkan dalam kelompok yang sebenarnya kurang merepresentasikan kemampuan masing-masing seperti IPA, IPS dan Bahasa. Apa memang kemampuan individu hanya di 3 kategori tersebut? Belum lagi standar semu yang jadi acuan baku semua orang, contohnya:

  • IPA dianggap lebih bagus daripada IPS,
  • Anak yang masuk IPS adalah anak ‘buangan’ karena tidak diterima di IPA,
  • Belum lagi anak Bahasa yang notabene adalah kaum minoritas dan kebetulan orang-orangnya juga rada ngga kaya kebanyakan.

Pengkotak-kotakkan ini secara tidak sadar menimbulkan pandangan-pandangan salah seperti yang saya rasakan waktu ada teman yang secara sadar memilih jurusan Bahasa waktu penjurusan kelas II SMA. Ngga salah nih milih jurusan bahasa? Ntar jadi apa emang?

Padahal waktu SPMB, penjurusan ini terbukti ga ada gunanya karena kebanyakan siswa belum yakin sebenernya dia mau jadi apa dan untuk mendukung itu dia perlu menekuni apa di bangku kuliah. Pada akhirnya kaya saya, milih jurusan hanya berdasarkan passing grade dan peluang saya untuk melampaui passing grade tersebut. Yang penting diterima di salah satu universitas bagus. Jaman dulu tes potensi bakat masih jarang sehingga ngga terlalu jadi pertimbangan penting dalam memilih universitas. Ujung-ujungnya karena bapak saya juga keukeuh saya harus nyobain yg jurusan IPS juga, jadilah saya ikut tes SPMB IPC walaupun udah 2 tahun ga belajar selain sains. Hasilnya bisa ditebak, pas tes yang pelajaran IPS saya ngarang total! Beres paling duluan dan ketawa-ketawa sendiri kaya orang gila. Di banyak kasus, malah ada sejumlah anak IPS keterima di IPA karena emang bisa.

Gara-gara ini juga cita-cita anak-anak dari dulu ngga kreatif.  Jadi dokter, insinyur, pilot, astronot. Ga ada yang mau jadi petani, seniman, dll yang dianggap ga menghasilkan uang. Padahal ga ada yang salah dengan jadi petani ataupun seniman. Petani itu jasanya luar biasa, ga ada petani ga makan kita. Bagusnya saya bisa agak kurus kali ya, haha.. kalau seniman, wah di jaman serba kreatif kaya sekarang mah seniman jadi profesi yang menjanjikan.

(dan sampai sekarang saya juga belum tahu mau jadi apa -__-)

Karena pekerjaan dianggap ada kelas-kelasnya juga, sikap kita sama orang-orang yang pekerjaannya lebih ‘rendah’ jadi cenderung kurang bisa menghargai padahal kita sebenarnya saling melengkapi, ga ada satu sama lain aktivitas kita terhambat. Saya kesel banget soal ini karena kemarin kebetulan denger iklan sinetron di tv yang bilang kaya gini “Jadi elo CUMA cleaning service?!!” Apa yang ditampilkan di televisi itu refleksi budaya dan pemikiran kebanyakan orang Indonesia makanya saya kaget banget. Ya ampun, selama ini separah itu ya? Apa salahnya jadi cleaning service? Apa dengan CUMA jadi cleaning service terus kedudukan dia di mata Allah jadi lebih rendah dan yang lain yang dinilai lebih tinggi jadi lebih superior? Ngga kan? Dari segi material, siapa tau starting point dia memang dimulainya dari situ, beberapa tahun mendatang kalau dia kerja mati-matian bisa lebih kaya daripada yang dulu memandang sebelah mata. Duh, bangsa kita ini bangsa komentator banget. Parah.

Anggaran pendidikan kita itu berapa sih? Beneran 20% dari APBN?

Kemarin saya dapat pencerahan dari atasan di kantor. Jadi waktu ada yang bilang kalau anggaran pendidikan kita itu 20% dari APBN, di kantor saya heboh (sampai ngumpulin para deputi hari minggu) mencari angka 20% itu apakah benar dan ada dimana saja uangnya. Setelah dicari-cari ternyata sumbernya bukan cuma dari Kemendiknas aja, karena anggaran mereka tiap tahun cuma sekitar 60T. Yang lainnya itu dari Pusbindiklat (Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan) di Kementerian/Lembaga. Dan setelah dihitung-hitung, yaah mendekati 20% lah.

miris banget liat ini,  menuntut ilmu taruhannya antara hidup dan mati :(

miris banget liat ini, menuntut ilmu taruhannya antara hidup dan mati 😦

Sebagai penutup, saya mengutip kata-kata Pak Armein lagi di blognya (hebat ya tulisannya selalu bisa menginspirasi tulisan lain). Menurut beliau pendidikan kita ini pendidikan placebo karena tidak mendukung siswa menjadi dirinya sendiri. Kosong. Ga berisi. Ga berkhasiat. Tapi dianggap berhasil membuat anak-anak jadi pintar padahal sugesti.

Jadi selama ini kita minum obat dan merasa sukses padahal obatnya kosong? Wew!

Advertisements

what I learn about family..

Semakin mendekati usia seperempat abad, saya jadi lebih sering merenung, mengingat-ingat 24 tahun lebih ini ngapain aja, attitude saya ke keluarga gimana, ke orang lain gimana, hal-hal yang memalukan yg pernah terjadi sama saya, kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan (dan gimana saya selalu berharap untuk ga pernah melakukan kesalahan-kesalahan itu), hal-hal yang sudah saya capai, mimpi-mimpi saya, rencana hidup saya, dan masih banyak lagi lainnya.

Image

mm, apa yaa??

Satu hal yang paling saya sesali sampai sekarang adalah gimana saya, entah udah berapa kali saking banyaknya, seringkali menyakiti hati orang tua dengan kata-kata maupun sikap saya. Saya nyeseel banget. Mama dan Papa udah membesarkan saya dengan kasih sayang tapi kadang-kadang sikap saya kaya yang ga tau terima kasih. Saya sadar karena tanpa disadari saya jadi semakin gampang tersakiti sama perkataan atau sikap orang. Saya jadi mikir, baru segini aja sakitnya kaya gini, gimana Mama Papa saya bisa sabar ya sama saya padahal dosa saya banyak banget sama beliau-beliau.

Ditambah lagi setelah beberapa tahun kerja di Jakarta dan sering maen ke rumah pacar yang notabene orang Solo, saya banyak terkaget-kaget sama suasana keluarganya yang beda banget sama keluarga saya. Saya tertegun ngeliat sikap pacar dan kakak-adiknya terhadap orangtuanya maupun sikap mereka satu sama lain, very thoughtful and calm. Kalau di keluarga saya, karena keras kepala semua jadi sedikit-sedikit tegang, cuma Mama saya aja yang sabar dan jadi penengah. Disana semua anggota keluarga saling menjaga dan hapal apa saja makanan atau minuman yang harus dihindari oleh Papa Mamanya sementara di keluarga saya, karena Papa sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga (adik-adik saya perempuan semua) terbiasa menanggung semuanya sendiri dan tidak mau mengkhawatirkan anggota keluarga yang lain (kadang, Mama saya juga tidak diberi tahu soal masalahnya) maka saya juga tanpa disadari jadi kurang terbiasa concern sama hal-hal yang memang tidak diceritakan orang tua kepada saya seperti kesehatan mereka.

Pulang dari rumah pacar, I feel either sad and determined. Sedih karena saya merasa banyak sekali melewatkan hal-hal berarti dan sederhana yang bisa saya lakukan buat orang tua saya. Determined karena saya bertekad memperbaiki sikap saya sesuai contoh yang saya dapat dari rumah keluarga pacar saya untuk saya terapkan kalau saya pulang ke rumah atau bertemu orang tua saya.

Sampe sekarang saya merasa bersalah banget terutama sama Papa, terutama karena salah menilai beliau. Waktu saya kecil, di beberapa kejadian Papa emang keras banget sama saya karena saya cengengnya minta ampun tapi tanpa disadari seiring saya tumbuh besar, saya jadi agak menjaga jarak sama beliau. Saya bicara seperlunya aja sama Papa, kisaran obrolannya bisa diitung dari jaman kuliah sampai udah kerja sekarang, antara uang bulanan masih cukup apa ngga, perlu apa aja untuk beresin kuliah, mau kerja dimana abis lulus dan rencana nerusin sekolah.

Papa juga orangnya over protektif dan khawatiran banget makanya kalau ada apa-apa saya ngga berani bilang langsung sama beliau, saya lebih memilih cerita apa-apa sama Mama saya karena Papa kalau marah serem. Karena terbiasa ngobrol sama Mama, waktu saya cerita dengan suara rendah tentang adik saya sama Mama, saya kaget waktu Papa yang lagi sapu-sapu tiba-tiba nimbrung nanya dan pengen tau. Saya urung cerita karena saya terbiasa tidak melibatkan Papa dalam cerita-cerita saya pada Mama dan saya juga belum yakin akan reaksi Papa terhadap cerita saya. Waktu Papa pergi, saya bilang, “Duh ma, aku kaget waktu papa tiba-tiba nanya. Ternyata ikutan denger yah.” Mama saya bilang “Teh, papa juga kan pengen tau tentang anak-anaknya.” Saya kaget, dan ngerasa bersalah karena sikap saya tanpa disadari ternyata mengasingkan Papa banget.

Papa dari dulu memang orang lapangan dan kerjanya keliling terus sehingga saya terbiasa di rumah ga ada Papa. Kalau ada rasanya kadang-kadang masih aneh. Itulah sebabnya di satu kesempatan beliau lagi-lagi bikin saya tercenung waktu bilang “Saya mohon maaf kalau anak saya banyak kekurangannya. Terus terang saja didikan saya memang kurang. Dari dulu saya kerjanya keliling terus sehingga jarang di rumah.” Papa dengan legawa mengakui kekurangannya dalam mendidik dan berinteraksi sama keluarga dan anak-anaknya. Saya serasa ditampar, karena selama ini salah paham sama Papa. Selalu ga ada di rumah juga bukan pilihan Papa tapi karena untuk memastikan kehidupan istri dan anak-anaknya selalu tercukupi makanya beliau  kerja keras banget walaupun harus berkorban hati.

Berkaca dari kejadian-kejadian itu, hubungan kami cukup membaik akhir-akhir ini. Kalau ketemu, saya berusaha ngobrol lebih banyak sama Papa maupun Mama. Saya tau mereka paling bahagia kalau anak-anaknya dapet prestasi yang baik, keterima di sekolah yang bagus dan dapet kerja yang baik, makanya saya berusaha (walaupun masih jauh dari paling maksimal) untuk memenuhi hal-hal itu. Alhamdulillah saya keterima sekolah di ITB, dapet kerja di Bappenas dan dalam waktu dekat akan berangkat untuk sekolah lagi melalui beasiswa. Saya merasa cukup memberikan standar yang baik untuk adik-adik saya. Nantinya adik-adik saya harus lebih sukses dari ini dan lebih membanggakan kedua orang tua saya.

moga2 gw ga dosa ngedit2 foto bapak jd kaya begini, hehe

moga2 ga dosa ngedit foto Papa jd kaya begini, hehe.. just for fun, Pa

Tapi standar kebanggaan atau kebahagiaan orangtua terhadap anaknya itu bagaimana ya? Melihat anaknya lebih sukses dari pada mereka sendiri atau melihat anaknya kerja apa saja asalkan baik sudah cukup? Any thoughts?

Tentang hubungan dengan keluarga atau sesama, mengutip dari blog favorit saya, katanya kita seharusnya bisa ramah pada semua orang dan mesra pada orang yang kita kasihi. Tapi ternyata penerapannya ga segampang keliatannya. Selengkapnya bisa baca disini 🙂