Kemana-mana di Ibukota

Hidup di Jakarta yang padat dan tingkat mobilitasnya tinggi, tidak banyak moda transportasi nyaman yang bisa dipilih. Rata-rata rawan kriminalitas, polusi dan tentu saja tidak bisa tidak ikut macet-macetan. Kalaupun ada yang nyaman pasti lebih mahal.

Selama hampir 3 tahun tinggal di Jakarta, saya jarang sekali naik angkutan umum. Naik Kopaja, angkot dan bis seumur-umur baru sekali (itu juga karena bersama teman), naik Transjakarta sebulan sekali (karena rumah dokter gigi saya lebih dekat dari halte busway), naik kereta mengikuti arus sekali (karena menginap di rumah teman di Depok. Saya lebih sering naik kereta melawan arus untuk menghadiri rapat sehingga lebih sepi penumpangnya), dan sekarang lebih sering naik ojek (karena cepat sampai tujuan walaupun beresiko masuk angin). Saya sendiri sebenarnya lebih nyaman kemana-mana naik taksi, walaupun ternyata tidak terjamin selalu aman juga.

Karena naik apa saja serba ada harga lebih yang harus dibayar, apalagi naik transportasi umum yang resikonya tinggi, makanya saya selalu kagum sama teman perempuan saya yang berani naik bis, angkot dan kopaja. Di jaman-jaman sedang marak kasus penculikan, pemerkosaan dan lainnya di dalam transportasi umum, kita, khususnya lagi kaum perempuan, dituntut untuk lebih waspada dan berhati-hati dimana-mana. Mendengar berbagai berita kejahatan dalam transportasi umum di televisi, cerita teman yang hampir jadi korban kejahatan waktu naik angkutan umum ditambah pengalaman gagal saya beberapa kali naik transportasi umum di Jakarta membuat perjalanan naik apapun di Jakarta seringkali terasa membahayakan buat saya.

Berikut adalah pengalaman-pengalaman saya naik moda transportasi di Jakarta yang bikin agak was-was dan bahkan kapok:

1. Naik bis

Pengalaman saya naik bis pertama kali adalah saat akan pergi main ke Plaza Semanggi bersama teman. Kami berdua belum lama tinggal di Jakarta, butuh hiburan dan sedang sama-sama ‘kanker’ (kantong kering). Biasanya kami naik taksi, tapi tiba-tiba teman saya mencetuskan ide brilian untuk mencoba naik bis 213 yang konon cuma Rp 2.000 ke Semanggi. Melihat prospek menghemat Rp 10.000, tanpa pikir panjang saya pun segera mengiyakan ajakan tersebut. Tanya sana tanya sini, katanya untuk naik 213 ke Plaza Semanggi cukup turun di Atmajaya, sebelum jembatan. Oke, berbekal petunjuk tersebut saya dan teman pun langsung naik 213. Rupanya bis sedang padat, oleh karena itu kami memilih berdiri di pintu belakang bis. Setelah kenek menghampiri dan kami membayar Rp 2.000 masing-masing, saya dan teman saya asyik mengobrol dan memperhatikan penumpang yang naik dan turun. Rupanya setiap ada penumpang yang mau turun, si kenek memukul-mukulkan koin receh ke pintu bis sebagai tanda bagi supir untuk ‘melipir’ ke pinggir jalan. Cukup efektif juga, saya senyum-senyum sendiri. Sudah sekitar 10 menit, bis sudah masuk Sudirman dan kami mulai khawatir karena tidak tahu dimana Atmajaya dan jembatannya walaupun sering ke Semanggi naik taksi. Kami pun bertanya ke salah satu penumpang dan dia  mengatakan bahwa Atmajaya “sebentar lagi” sambil pamit karena turun duluan. Lega karena Atmajaya masih di depan, saya dan teman pun meneruskan mengobrol.

Kenek tiba-tiba menyerukan “Benhil, Benhil” dan banyak penumpang turun.

Karena tujuan kami adalah Atmajaya maka kami mengacuhkan seruan tersebut. Bis pun kembali bergerak dan berpindah jalur dari lambat ke cepat. Tiba-tiba mata saya menangkap tulisan Atmajaya, begitu juga teman saya.

Kontan, teman saya langsung berkata “Eh, ini Atmajaya mi, kita kan turun sebelum jembatannya ya. EH MI, INI JEMBATANNYA!!”

Terlambat, bis sudah lewat jembatan dan tidak ada tanda-tanda melambat karena sudah masuk Bundaran Semanggi.

“Koin!! Koin!!”

Dalam kepanikan, saya dan teman langsung membongkar tas dan merogoh saku mencari koin untuk dipukul-pukulkan ke tiang atau pintu bis tapi nihil. Kami pun hanya bisa pasrah dengan muka cemas melihat bis naik ke arah atas menuju Grogol yang saat itu belum terjamah sama sekali oleh kami. Tepat ketika salah satu penumpang memberikan tanda turun setelah bis melewati jembatan, kami pun dengan terburu-buru ikut turun dan akhirnya mencegat taksi yang lewat (beberapa bulan kemudian kami tahu bahwa tempat kami turun waktu itu adalah Hotel Sultan, yang notabene masih cukup dekat dengan Plaza Semanggi).

Hilang sudah prospek menghemat Rp 10.000, kami malah mengeluarkan masing-masing Rp 12.000 lagi untuk membayar taksi karena dia harus memutar cukup jauh untuk sampai ke Plaza Semanggi. Sejak itu saya tidak pernah naik bis lagi. Kalau keadaan memaksa saya untuk naik bis lagi, maka saya harus tahu persis nama tempat saya turun, dimana tepatnya saya turun dan menyampaikan ke kenek jauh sebelumnya bahwa saya akan turun disitu. Ffiuuuh..

2. Naik taksi

Pengalaman tidak mengenakkan saya selanjutnya adalah saat naik taksi. Waktu itu saya mau berangkat tes iBT di Sudirman. Karena buru-buru dan susah sekali mencari taksi langganan maka saya asal mencegat taksi apapun yang lewat di jalan waktu itu. Setelah naik, saya baru sadar, duh kenapa ya saya malah mencegat taksi abal-abal seperti ini. Dalam hati saya merutuk, menyesali kebodohan dan keteledoran saya. Sepanjang perjalanan saya merasa cemas dan tegang. Diperparah dengan kondisi taksi yang sudah jelek dan bau amis. Si supir taksi bercerita kalau penumpang sebelumnya habis belanja ikan di pasar dan airnya tumpah ke karpet taksi blablabla. Inisiatifnya untuk mengajak saya mengobrol tidak mengurangi kekhawatiran dan kecemasan saya. Sampai ketika berbelok ke Sudirman saya menyadari kalau Car Free Day baru saja berakhir, untunglah, kalau tidak pasti harus memutar ke jalan yang lebih jauh lagi.

“Oh, habis Car Free Day yah.” Saya berusaha memulai pembicaraan netral.

“Mbak sering dateng kesini?”

“Oh, saya malah belum pernah kesini, Pak.” Saya mulai agak tenang karena si supir menanggapi dengan cukup netral juga.

“Iya sih ya, badan Mbak udah bagus sih.” ujar si supir sambil melirik ke arah saya di belakang kursinya.

WHAT THE..!!! GW MAU TURUN SEKARANG JUGA!!

Wajah saya langsung pucat, mata dan tangan saya sudah mengarah pada pegangan pintu taksi. Kalau sampai ada gelagat buruk saya sudah siap buka pintu taksi lalu loncat keluar berguling-guling seperti di film action. Yang penting selamat dari supir menakutkan ini.

Untunglah tidak lama kemudian taksi sudah sampai di depan gedung tujuan saya. Tergesa-gesa saya memberikan ongkos dan turun, tidak peduli dengan uang kembaliannya. Saya tidak mau menghabiskan bahkan 1 detik lebih lama di dalam taksi itu. Hiiii….

Pengalaman menakutkan kedua di taksi saya alami baru-baru ini. Waktu itu saya mau pergi ke arah Jatiasih, Bekasi. Ketika sedang menunggu taksi, tiba-tiba ada mobil yang membunyikan klakson dari arah belakang, ternyata itu taksi kosong. Saya pun langsung naik. Setelah melewati Cawang, bukannya mengarah ke tol Cikampek dia malah memilih lewat tol Jagorawi, buru-buru saya memberitahu supir bahwa saya lebih memilih lewat arah Cikampek. Dia pun langsung membanting setir ke kanan disambut bunyi klakson keras dari mobil-mobil di belakang yang kaget dengan gerakan taksi yang tiba-tiba. Okee..

Beberapa menit kemudian, taksi sudah sampai di tol Pondok Gede, gerak-gerik si supir taksi berubah ganjil. Dia tidak henti-hentinya menggerakkan badan ke kanan, ke kiri, lalu minum banyaak sekali. Ini berulang selama beberapa kali bahkan ketika kami sudah masuk Tol Lingkar Luar. Saya jadi takut, dia kenapa sih? Saya khawatir dia punya penyakit aneh. Untungnya Jatiasih tinggal 1 km lagi. 500 m menjelang pintu keluar Jatiasih dia sudah mengambil jalur kiri, saya pun jadi agak tenang. Ternyata, taksi malah mengambil arah kanan ketika sudah waktunya berbelok ke kiri. Kontan saya sedikit berteriak, “Pak, belok kiri!”

Untuk kedua kalinya, dia membanting setir ke kiri. Lagi-lagi disambut bunyi klakson sangat keras dari mobil dan truk-truk di belakang. Sekali lagi saya mencoba menenangkan detak jantung saya yang sudah tidak karuan. Beberapa menit kemudian, taksi pun sudah memasuki komplek perumahan. Tiba-tiba si supir berkata, “Mbak, saya mau ngaku nih..”

Mm? Ada apa nih? Jangan-jangan prasangka saya benar kalau dia punya penyakit aneh? Biasanya perasaan saya suka terbukti benar. Atau apa? Tidak tahu jalan balik nanti?

“Bapak sakit?” saya bertanya lebih dulu.

“.. sebenernya di jalan tadi saya sempet tidur.”

Ok, this is quite shocking but explain everything. He was sleepy all this time!

“Oh, iya gpp.” Saya berusaha tenang, padahal dalam hati saya shock membayangkan begitu dekatnya saya dengan kematian tadi.

“Iya mbak, Alhamdulillah ya, untung Allah masih sayang sama saya.”

WHATTT?!!!! Emang Allah ngga sayang sama saya?!!! I was more shocked by his latter statement. Saya emosi. Hampir aja dia bikin celaka. Saya kira dia sakit, saya ngga nyangka dia belum tidur 2 hari, wong tadi yang nglaksonin saya buat naik taksi dia itu ya dia sendiri. Ya logisnya dia sanggup dong nyetirin saya kemana aja. Sejak saat itu, naik taksi pun saya was-was juga. Hhhhh…

3. Naik Transjakarta

Karena berbagai pilihan moda transportasi umum di Indonesia belum bisa memberikan jaminan safety, terang saja orang-orang lebih memilih naik kendaraan pribadi (mobil dan motor) kemana-mana. Pada akhirnya jalanan padat dan macet, mau naik Transjakarta yang relatif aman dan punya jalur sendiri juga tidak menjadi pilihan karena busnya sedikit dan tidak kunjung datang, jalurnya diserobot sehingga sama-sama terjebak macet. Semakin lama, penumpang di halte yang mau pulang semakin banyak, ketika bus datang penumpang di dalamnya sudah banyak sekali, ditambah orang-orang yang memaksakan diri mau naik karena ingin buru-buru sampai rumah. Mana nyaman naik Transjakarta seperti itu, masuknya sudah perjuangan belum lagi keluarnya ampun susah sekali. Belum lagi kalau saya cerita bagaimana padatnya itu Transjakarta pas ulang tahun karena naik digratiskan untuk semua. Mulai dari bayi, anak kecil, suporter klub sepak bola yang tanding hari itu sampai kakek-nenek tumplek blek naik Transjakarta, ricuh, rusuh.  Hhhh… *ngelap keringat*

4. Naik kereta

Kereta commuter line sebenarnya cukup nyaman dan menjadi pilihan utama bagi orang-orang yang tinggal di Bodetabek dan bekerja di Jakarta. Akan tetapi, sudah keretanya sering telat karena sering gangguan akibatnya yang naik juga jumlahnya jadi ngga logis. Teman kantor saya yang tinggal di Bogor sering menceritakan pengalaman-pengalamannya naik kereta commuter line Bogor-Jakarta. Dulu itu, kereta commuter ada yang ekspress, ekonomi AC dan ekonomi. Kalau yang ekspress, keretanya hanya mengambil penumpang dari stasiun awal dan berhenti di stasiun akhir. Kondisi keretanya paling nyaman dan harganya paling mahal dibanding 2 lainnya, sekitar Rp 7.000. Ini jadi pilihan pertama teman saya karena tentu saja kemungkinan padatnya kecil.

Ekonomi AC berhenti di tiap stasiun yang terlewati dari stasiun Bogor sampai stasiun Kota atau Tanah Abang. Kemungkinan padatnya besar sekali. Dari Bogor sudah penuh, berhenti di tiap stasiun penumpang nambah terus. Wah, super sekali. Harganya di kisaran intermediate Rp 5.000 kalau saya tidak salah.

Yang terakhir ekonomi, ini yang suka muncul di televisi dengan penumpang meluber di pintu ataupun duduk di atas kereta sambil makan angin. Saya tidak akan pernah berani naik ini kecuali ada temannya. Harga tiketnya sekitar Rp 2.000. Yang di atas tentu saja gratis.

Suatu ketika teman saya naik ekspress seperti biasa dari Stasiun Bogor, sudah sangat padat di dalamnya. Dan entah kenapa ternyata kereta berhenti di tiap stasiun, padahal seharusnya jalan terus sampai Jakarta. Naiklah orang-orang. Semakin lama semakin susah bernapas. Orang-orang di dalam sudah pada berteriak-teriak, “Paaaakk, udah ngga cukup lagiiiii…” sambil tergencet-gencet. Tidak heran setiap hari begitu sampai kantor wajah teman saya yang naik kereta sudah lusuh sekali dan moodnya jelek sekali. Belum lagi kalau keretanya mengalami gangguan, lebih baik dia tidak perlu diajak ngobrol hari itu, mengerikan sekali, hehehe.. Herannya waktu saya tanya apakah petugas bisa memeriksa tiket seluruh penumpang karena tampak impossible, teman saya menjawab “Eeeeh, jangan salah mic, tiketnya keperiksa semua di kereta. Dia bisa banget masuk diantara penumpang-penumpang walaupun keliatannya ngga ada celah sama sekali.” Saya harus bilang WOW untuk ini O.O

Saya memang seringnya naik kereta melawan arus saat peak hours. Suasananya enak sekali, cocok untuk merenungi hidup, memperhatikan kehidupan orang-orang yang terlihat sekilas. Anak sekolah, kuliahan, bekerja, pedagang, pasangan kekasih, keluarga kecil, nenek dengan cucunya dan lainnya. Tapi bukan berarti mood saya terjaga sempurna sampai Bogor. Seringkali sebelum naik pun saya sudah marah-marah duluan, bukan apa-apa, kembalian tiketnya ditilep! Siyaaall!! Dia memanfaatkan ketergesaan orang-orang dengan memberikan uang kembalian yang kurang. Tipikal orang kalau mau naik kereta kan sambil beli tiket sambil nanya “kereta xx sudah ada belum ya?”, dijawabnya “Udah disini mbak!” jadilah tergopoh-gopoh lari ke peron. Begitu sampai atas kok kosong, tanya petugas dijawab “Wah, masih lama mbak.” FAK!

Waktu saya mengalami ini pertama kali, saya sih masih positive thinking. Mungkin dia ga sengaja karena lagi banyak yang buru-buru beli tiket. Eh, ko lanjut jadi kedua kali dan ketiga kali ya? Ini lupa atau biasa?! Tuman banget! Marah-marah deh saya di twitter.

Tapi kalau saya perhatikan, PT. KAI sekarang sedang giat-giatnya berbenah dan saya harus mengapresiasi upaya-upayanya. Sekarang kereta commuter line jadi satu jenis aja, ya commuter line aja. Biar adil kali ya untuk penumpang yang mau naik di tiap stasiun. Frekuensinya jadi banyak, tapi telat sih masih banget. Penumpang kereta ekonomi yang naik di atas dan ga punya karcis sempet disemprot sama cat, begitu turun ditangkep. Masalahnya bukan karena ga bayarnya itu, tapi bahayanya itu loh. Kalau jatoh atau kesetrum kan berabe. Tapi kalau ngeliat gaya mereka ini kadang jadi hiburan juga ya. Nikmat banget gitu, duduk santai, ada juga yang baringan nyamping dengan tangan mangku 1 sisi kepala, hihihii..

Perbaikan lainnya, begitu sampai stasiun, karcis yang sudah diperiksa dan dibolongin di kereta juga diminta lagi sebagai bukti kalau kita masuk secara legal ke stasiun.

Yang terakhir tapi paling membantu buat saya adalah, jelasnya suara pengumuman ‘halo-halo’ di stasiun!! Duh, buat penumpang yang agak budi (budek dikit) kaya saya, ini tuh seperti menjawab doa saya banget. Dulu saya seringkali blank kalau ada yang ngumumin lewat speaker stasiun, kereta saya yang mana, kereta yang datang apa. Sama sekali ga jelas dan entah kenapa masalah speaker tiap stasiun itu sama. Entah speaker tipe apa itu sampai kepilih di pengadaan barang tiap stasiun. Ga reliable banget, jadinya harus selalu tanya petugas. Dan sekarang, hellllooooowww, jelas banget pengumumannya. Ternyata selama ini yang diumumin tuh itu toh, kereta commuter line masih di stasiun mana, kereta yang datang ini apa, dll. Sekarang saya ga takut salah lagi deh naik kereta.

Selain ketepatan waktu, menurut saya perbaikan lainnya yang harus dilakukan adalah penambahan keterangan tiap stasiun yang dilewati dengan indikator lampu. Kita bisa tahu ada berapa stasiun yang akan dilewati, kereta sudah sampai stasiun mana, akan menuju stasiun mana karena di commuter line tidak ada pengumuman yang menerangkan itu. Kita semata-mata bergantung pada tulisan di luar kereta, yang ketika malam kadang susah terlihat. Sekarang sih kalau saya lihat papan nama stasiunnya sudah dibuat lebih terang, but still..

Kehidupan yang sebagian besar dihabiskan di jalan yang macet secara tidak disadari mempengaruhi psikologis masyarakat perkotaan Jakarta. Warga jalanan Jakarta menjadi gampang tersulut emosi, tidak sabar, dan cenderung melanggar peraturan karena maunya serba cepat. Belum lagi udara yang sangat panas semakin membuat panas suasana. Oleh karena itu, saya berharap banyak dari pemimpin Jakarta yang baru saat ini karena track recordnya baik, orangnya santai, sederhana dan mau bekerja keras untuk membuat Jakarta jadi kota yang cukup menyenangkan untuk ditinggali, tidak hanya  menjadi kota yang sukses saja. Saya optimis Jakarta Baru bisa lebih baik karena pemimpinnya sekarang mau duduk sama rendah dengan warganya, mendengarkan aspirasi dan mencari penyelesaian dari masalah-masalah warganya. Masalah transportasi Jakarta memang seperti lingkaran setan tapi kalau dikomunikasikan dengan baik bersama warga, solusi bisa sekali diupayakan dan dieksekusi dengan cepat.

Saya berharap sistem transportasi Jakarta bisa seperti Bangkok atau Seoul. Sama ibukota tapi kok keadaan transportasinya bisa jauh sekali begitu. Keadaan Bangkok pernah sama ruwetnya seperti Jakarta tapi Bangkok kemudian memperbaiki sistem transportasinya dan hasilnya: sistem transportasi yang lengkap, canggih dan terintegrasi banget ke moda transportasi lain maupun ke pusat-pusat kegiatan. Baca cerita saya tentang transportasi Bangkok disini. Di Seoul, sistem transportasinya lebih complicated lagi, tapi melatih jalan kaki banget, jadinya kita banyak minum dan sehat. Tulisan tentang Korea dan sistem transportasinya akan saya share lebih lanjut setelah ini.

Saya menaruh harapan besar sekali dengan pengembangan moda transportasi kereta karena cepat, sekali jalan bisa mengangkut banyak penumpang dan jalurnya terpisah dari jalan sehingga tidak menambah macet. Semoga MRT bisa segera dibangun di Jakarta ya, sayang sekali tiang-tiangnya sudah dibangun dan jadi tidak berguna sehingga malah dipakai untuk billboard konser Big Bang, hahaha.. Saya juga berharap Transjakarta bisa makin bagus pelayanannya dan armadanya bertambah banyak karena sampai saat ini, transportasi umum yang cukup reliable dan masuk pilhan saya adalah Transjakarta ini. Semoga ya…

Advertisements