Auf wiedersehen, freund :)

Saya jarang banget kehilangan barang gara-gara diambil orang lain, atau mungkin ga pernah kali ya kayanya.

Saya seringnya kehilangan barang gara-gara kecerobohan sendiri.

Kaya dulu, gara-gara buru-buru, setelah mengambil uang di ATM untuk bayar check-up ke dokter gigi, saya malah langsung pergi ke kasir dan meninggalkan kartu ATM di dalam mesin. Itu aja udah parah, ditambah lagi karena saya baru menyadari kecerobohan saya beberapa hari setelah itu. Akibatnya, 1 juta rupiah di rekening hilang tanpa jejak.

Syukur Alhamdulillah saya tidak kehilangan uang lebih banyak karena orang tua selalu mengirim uang pas untuk saya tiap bulannya. Saya juga bakal ngerasa ga enak kalau yang hilang lebih banyak. Papa udah kerja keras cari uang tiap harinya bukan untuk hilang sia-sia gara-gara kecerobohan anaknya.

Saya seringnya melihat teman-teman saya kehilangan barang mereka.

Di kosan kebetulan sudah beberapa kali terjadi kehilangan, mulai dari tingkat pertama kuliah. Pertama sih yang hilang masih sepatu kets, walaupun sekali 3: sepatu saya, Kiki, sama Astri. Dari situ kami mulai waspada.

Selanjutnya, donat J.Co green tea Danar yang hilang. Kalau ini sih saya ngga tahu siapa yang ngambil, haha..

Yang hilang selanjutnya adalah hp Danar, hp Danar, dan hp Mail.

Mmmm, dari situ kami makin waspada. Tapi yang terjadi adalah pengamanan selalu lebih ketat beberapa hari setelah hari H tapi selanjutnya santai-santai lagi, walaupun pintu sih ya tetep dikunci.

Sampai hari itu.

Seminggu yang lalu saya dapat kiriman TV dari rumah nenek untuk menggantikan TV kosan yang sudah semakin sekarat. Jumat siang itu, saya berkeliaran di Pasar Jumat depan kampus dengan tujuan utama mencari remote TV. Saat sedang memilih kaos kaki 10 ribuan 3, tiba-tiba HP saya berbunyi, ternyata dari yang punya kosan. Kok tumben telepon?

“Halo, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Mbak lagi dimana?”

“Masih di kampus, kenapa?”

“Mbak bisa pulang ngga? Kamar Mbak pintunya kebuka nih. Saya takut kenapa-kenapa. Tolong diliat dulu.”

DEG.

I’ve never experienced this kind of thing. Antara ga percaya dan panik.

“Oh, iya deh. Aku pulang sekarang.”

Saya langsung telepon Andika, cerita, trus minta dijemput. Di perjalanan pulang, dia berusaha menenangkan saya yang bengong sepanjang jalan gara-gara mikir, panik, sekaligus positive thinking. Saya mikirnya, masa saya kecurian sih.

Kok saya?

Ah, paling ada anak kosan yang pake kunci serep buat buka kamar saya, ngambil sesuatu trus lupa dikunci lagi. Ini emang udah biasa di kosan saya, tapi biasanya juga pasti bilang-bilang dulu.

Jadi siapa?

Perasaan dari pagi semua udah pada pergi deh.

Duh, kalau sampai kecurian gimana nih?? Jangan-jangan ngambil laptop?

Lagi ngerjain Tugas Akhir (TA) lagi nih. Data-data ngga ada back-up. Eh, tapi kayanya data Tugas Akhir udah di-copy ke hardisk eksternal sama USB. Eh, tapi kayanya dua-duanya masi nyolok laptop deh. Gimana kalau diambil juga???

Duuuh, gimana ini. Laptop gpp deh diambil, asal jangan hardisk eksternal.

Begitu sampai kosan, saya langsung masuk dan mendapati pintu depan tidak terkunci. Saya mulai panik lagi. Lurus ke kamar saya, pintu terbuka lebar. Saya makin panik. Dengan buru-buru saya masuk kamar dan melihat meja saya kosong.

Terakhir naruh laptop dimana ya? Di meja gitu?

Saya mikir, masih belum percaya kalau kecurian dan mengingat-ingat posisi terakhir laptop saya. Sampai akhirnya saya sadar, terakhir memang saya taruh di meja, artinya saya memang kecurian.

icon_cry

 

 

Laptop kesayangan saya. Yang walaupun spec-nya biasa tapi udah nemenin saya selama 2 tahun terakhir kuliah. Laptop yang isinya banyak games. Yang nemenin saya kalo ga ada kerjaan dan males-malesan. Hehe, ga bener gini makenya, pantesan ilang.

Walaupun terlihat tegar di depan temen-temen dan yang punya kosan, tapi saya nangis waktu masih sama Andika. Semua data saya di laptop itu, mulai dari data kuliah, games, foto. Dan sekarang hilang.

Ternyata menurut kesaksian tetangga depan, kejadiannya waktu jumatan. Ada 2 orang laki-laki yang naik motor terus masuk kosan saya. Mereka kira itu kenalan saya, jadi dibiarin aja. Mereka masuk kosan pake alat seperti kunci yang kayanya khusus dipake pencuri. Kunci yang ujungnya patah itu kemudian ditinggalin di depan pintu saya.

So, officially, I’m losing my laptop, bag, adaptor and umbrella. Alhamdulillah hardisk eksternalnya ga diambil. Jadi selama beberapa minggu sampai komputer rumah dikirim ke kosan, saya nebeng-nebeng dulu ke Danar, Niken, Isti, Mail, Astri.

Positifnya, saya jadi lebih bisa ngehargain waktu dan serius ngerjain tugas. Kalau kemaleman, saya takut temen saya mau tidur. Kalau kelamaan, saya takut dia mau pake juga. Bagus juga efeknya. Tapi kalo malemmalem gitu, saya suka jadi kebayang-bayang lagi kejadian waktu pertama kali nemuin, dan merasa tertohok lagi, sedih lagi, dan kaget lagi. Huhuhu..

nyesel

 

 

Beberapa hari setelah kejadian saya mulai menganalisis dan memikirkan beberapa kemungkinan:

  • Mungkin si pencuri pelaku yang sama yang sudah melakukan beberapa kali pencurian di kosan saya.
  • Mungkin dia sudah mengamati penghuni kosan selama beberapa hari.
  • Mungkin sudah hapal kebiasaan kami, wajah-wajah kami.
  • Dan yang terburuk, mungkin saja orang yang kami kenal baik dan tampaknya dia sudah tau siklus kapan-kapan saja kami memperketat pengamanan dan lengah kembali.  
  • Mungkin saya kualat juga gara-gara suka ngebatin kalo temen saya kecurian, ‘untung bukan saya’.
  • Mungkin saya sudah lama tidak beramal.
  • Mungkin Allah mau mengganti laptop saya dengan sesuatu yang lebih baik.

Ya sudahlah, jangan berprasangka buruk, tidak akan merubah keadaan. Baiknya diambil positifnya aja.

Auf wiedersehen, freund!

Maafkan saya yang kurang ngejaga dan menggunakan kamu dengan baik. Semoga lebih bermanfaat dengan pemilik baru. Thanks for the last 2 wonderful years with me.

Walah, baru inget foto-foto narsis saya disitu semua!!

icon_surprised

 

 

Harus lebih siaga, nih!! Siaga satu kosan!!

Advertisements

my bad (2)

Beberapa sifat jelek saya : terlalu ceplas-ceplos, ga bisa dikritik, ngambekan, kurang motivasi, tergantung sama orang lain, ga bisa berpikir underpressure.

Gara2 sifat2 itu beberapa hari ini saya ribut, panik, kaget, stres.

hari kedua saya masi harus balik lagi ke jatinangor untuk ikut pelatihan fasilitator musyawarah perencanaan pembangunan kabupaten sumedang. ini bisa jadi inputan yang sangat baik untuk TA saya. tapi, hari ini ga ada yang bisa nemenin. saya juga mau ngambil laptop saya yang kemaren sempet ga bisa nyala trus diservis di BEC. terlebih lagi saya males, abis jauh, sendiri, pulangnya bisa malem juga. pikir saya, pihak penyelenggara acara pasti punya dokumentasi dan notulensinya lah ya, saya tinggal minta aja nanti. soal saran dosen pembimbing saya yang minta saya ngerekam jalannya acara pake handycam, pasti bisa dicover sama dokumentasi dari mereka. sip, dengan ini saya memutuskan ga ikutan.

saya pun menghabiskan hari itu dengan pergi ke BEC, ke kampus, bertemu beberapa teman dan lainnya. sampai saya sadar kalau saya lupa menghubungi pihak penyelenggara acara untuk memberitahukan bahwa saya tidak bisa datang hari itu walaupun sehari sebelumnya sudah menjanjikan akan datang. karena sudah telanjur malam, maka saya berniat menginformasikan mereka besok pagi saja.

tengah malamnya, saya YM-an sama dosen pembimbing yang sedang S3 di Belanda dan menceritakan progress saya selama beberapa hari ini. saya bilang juga kalau saya ngga ikutan pelatihan fasilitator hari itu karena ada perlu. dosen saya lalu memberitahu bahwa ternyata pihak penyelenggara sangat kecewa karena saya dan teman saya tidak datang. jadi mereka sebenarnya mengharapkan pendokumentasian lengkap jalannya pelatihan dengan video yang saya rekam, sebagai timbal balik atas bantuan yang akan mereka berikan untuk TA saya. mereka ngga mau saya dan teman saya nantinya cuma datang terus minta-minta data saja tanpa memperoleh ‘sesuatu’ yang lebih bermakna. tujuan saya disuruh ngerekam acara ya biar saya bisa lebih terlibat. saya merasa sangat bersalah tapi di sisi lain juga merasa benar-benar saja. mereka ga bilang apa2 soal apa yang mereka harapkan untuk dibantu. jadi, menurut saya ini murni kesalahpahaman.

tapi kemudian dosen saya berkata, “itulah bedanya penelitian fisik dengan penelitian sosial. kalau penelitian fisik kamu cuma perlu cari data dari objek lalu selesai. beda dengan penelitian sosial. kamu harus membangun trust dengan orang-orang tertentu karena yang menjadi objek penelitan kamu adalah orang. itulah sebabnya sangat penting untuk menjaga hubungan baik dengan mereka.”

saya langsung sadar. walaupun memang ada kesalahpahaman, i did doing mistakes. pertama, pergi tanpa pamit. kedua, tidak menjaga kepercayaan mereka. ketiga, egois dan sangat bergantung pada orang lain. nasehat dosen saya benar-benar mengena di hati saya. nasehat ini juga sebenarnya berlaku tidak hanya untuk penelitian TA saja,tapi dalam kehidupan sehari-hari.

dosen saya berkata lagi, “tenang, saya sudah kasih pembelaan ko. saya bilang saja ‘yah, namanya juga mahasiswa pak, sudah menjadi tugas kita untuk membimbing’. bijak kan saya?” lalu beliau menyarankan saya untuk menawarkan bantuan saya dan teman saya pada mereka sekalian minta maaf. biar win-win solution, kata beliau.

besok paginya, dengan persiapan matang, (saya sudah menyiapkan naskah permintaan maaf berikut argumen-argumennya) saya menelepon pihak penyelenggara. 2x menghubungi, tidak diangkat. akhirnya saya memutuskan untuk sms dulu. ternyata orangnya memang sedang sibuk. setelah beberapa sms, akhirnya masalah ini berakhir dengan baik. alhamdulillah. pihak penyelenggara tidak menganggap ini masalah. kami pun menawarkan bantuan untuk membuat suatu catatan monitoring and evaluation terhadap jalannya beberapa musyawarah perencanaan pembangunan desa yang akan kami ikuti selama beberapa minggu ke depan.

perjalanan masih panjang tapi saya sudah mendapat beberapa pelajaran besar.  semoga tetap dilancarkan dan diberi kemudahan oleh Allah SWT. amin

“Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini hikmah untuk mengubah diri sendiri”

my bad (1)

Beberapa sifat jelek saya : terlalu ceplas-ceplos, ga bisa dikritik, ngambekan, kurang motivasi, tergantung sama orang lain, ga bisa berpikir underpressure.

Gara2 sifat2 itu beberapa hari ini saya ribut, panik, kaget, stres.

hari senin-selasa kemaren, saya harus survey TA ke jatinangor. karena ngerjain TA-nya bareng sama temen yang punya mobil, maka untuk urusan transportasi saya bener2 menggantungkan diri ke temen saya itu. sampai ketika temen saya ternyata sakit dan ngga bisa ikut survey. panik lah saya. bingung, kesana ngga ya? naek apa ya? trus disana ngapain kalo ga ada temen? saya jadi kurang motivasi, walaupun untuk TA, karena temen saya ga bisa ikut.

kalo panik, otak saya emang suka ga bisa diajak kompromi, jadi ga bisa berpikir logis dan sistematis. untung andika yang kebetulan lagi ga ada kuliah hari senin kemarin, bisa membantu saya mensistemisasi jalan pikiran saya yang udah terlanjur mbulet. sampai tiba pada keputusan kalo dia bakal nemenin saya ke jatinangor buat survey. kita pun naek damri dari dipati ukur, dan ternyata jauh banget. sampe sana udah lumayan siang. survey selama 2 jam, saya dan andika terus balik lagi ke bandung, karena ga mau kesorean, takut bisnya penuh. pamit alakadarnya, saya berkata pada narasumber TA bahwa akan kembali lagi besok, dan datang lebih awal.

kami sampai di bandung pukul 5 sore, istirahat sebentar, setelah maghrib saya pergi lagi les jerman. pulang les, saya sama andika makan. sambil makan saya cerita2 tentang obrolan saya dengan teman kosan saya yang jg teman andika. ternyata, ada perkataan saya yang terlalu ceplas-ceplos dan membawa nama andika juga sebagai sumber informasi. saya ga mikir dulu waktu mau ngomong. padahal masalahnya lumayan sensitif. dan saya ga menyadari itu.

dari dulu andika emang udah wanti2 supaya lebih hati2 dalam bersikap sama ngomong, soalnya sifat ceplas-ceplos saya ini emang udah beberapa kali mendatangkan masalah buat saya, dan dika juga secara ga langsung mungkin. saya harus memikirkan perasaan orang laen setiap saya mau ngomong, karena mungkin mereka akan sakit hati atau lainnya jika ada kata2 saya yang kurang pas rasanya di hati mereka. selama ini saya selalu merasa saya sudah cukup perhatian dengan perasaan orang lain tapi rupanya belum sama sekali.

saya sadar saya salah. saya sadar saya terlalu straightforward ngomongnya. tapi saya sebel dikritik. saya udah bilang di awal kan kalo saya ga bisa dikritik. dalam hubungan saya sama andika, persoalan selalu datang gara2 sifat2 jelek saya, jadinya yang selalu dikritik adalah saya. dan senin malam itu, saya gondoook banget, saya capek salah. kenapa hubungan ini rasanya jadi fokus ke memperbaiki sifat saya? dalam suatu hubungan seperti ini, mungkin itu jadi salah satu target juga, tapi kemaren itu saya merasa kalo itu jadi tujuan dari hubungan kami.

again, kalo emosi, saya lagi2 ga bisa berpikir logis. saya ga nyadar kalo saya terus menerus dikritik karena saya memang ga pernah mengubah sikap saya walaupun bilangnya mau berubah. yang terjadi, saya malah ngambek setiap dikritik. ngambekan. and that night didn’t end well, of course.

dalam kritikan2 kerasnya menghadapi saya yang sepanjang perjalanan membisu keras kepala dan tidak merespon apapun perkataannya gara2 ga suka dikritik, andika berkata “kamu ini ga dewasa tau ngga sih?!”  sampe rumah saya berpikir, introspeksi, dan ternyata saya memang belum dewasa. saya ga mau mengakui kesalahan yang saya perbuat dengan lapang dada, dengan berani, dengan kepala terangkat, dengan sadar. yang ada dalam pikiran saya kalo orang lain mengkritik pasti selalu pemikiran2 menentang. “kamu juga pasti pernah bikin salah kaya gini ato lebih parah, kenapa marah2in saya?!” mata hati saya sudah tertutup rapat untuk melihat kebenaran yang sebenar2nya.

setelah menenangkan hati, saya mulai bisa berpikir logis. saya telepon andika, minta maaf. setelah menenangkan hati juga, andika kemudian mengkritik saya lagi dengan cara yang sangaaaat halus yang diawali dengan permintaan maaf . saya pikir, saya ini keterlaluan. saya sudah terlalu sering egois padanya. setiap ada pertengkaran yang dipicu oleh sifat jelek saya, andika selalu mengalah dan meminta maaf duluan. dan kali ini kritikannya masuk banget, bisa saya terima dengan lapang dada.

saya jadi sadar, kunci pertama untuk menjadi dewasa adalah mau mengakui kesalahan diri sendiri dan menerima segala konsekuensi dari kesalahan tersebut. mungkin teman2 yang laen udah tau ini dari dulu, tapi saya baru bener2 ngerti ini sekarang.

“Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini hikmah untuk mengubah diri sendiri”

Ctrl+Z

who doesn’t know Ctrl + Z command for? i think everybody does know.

this command enable us to go back to our first condition, perfect condition i say, before we make mistakes. please make mistakes, coz you can go back to default.

if only our life’s as easy as pressing Ctrl + Z, then we can arrange our life as we want.

but this is the art of life. you can not go back to default. you have to accept all consequences you gain because of  your mistakes, to make you realize and not doing the same worse things.

coz life will always challenge you to be someone better.

Time will heal

suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya :

“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berkata dengan suara kuat atau berteriak?”

seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab :

“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia berteriak.”

“Tapi..” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di sampingnya. mengapa harus berteriak? apakah ia tak dapat berbicara dengan halus?”

hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. namun tak satupun jawaban memuaskan.

sang guru lalu berkata :

“Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanyapun menjadi lebih jauh lagi. karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

sang guru masih melanjutkan :

“sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. mengapa demikian?”

sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

sang guru masih melanjutkan :

“ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. mungkin di saat seperti itu tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. karena waktu akan membantu anda.”

yeah, i need time. to heal.

time will heal.