Menu MPASI Alya

Setelah Alya 6 bulan, ada tantangan baru untuk saya sebagai ibu: ngasih makan! Saya baru merasakan, waktu makan anak itu bikin stress banget, apalagi di awal-awal belajar seperti sekarang ini. Udah dibikinin sepenuh hati eh anaknya ternyata ngga suka, ditolak, ngga dimakan sama sekali, disembur-sembur, ditumpahin, dibuang, dsb. Saya jadi ngga semangat bikin MPASI dan seringkali lebih memilih puree instan yang banyak tersedia di supermarket dan dikasih temen seabrek-abrek karena anaknya ngga doyan. Saya baru semangat bikin homemade MPASI lagi beberapa hari setelah kecewa. Saya juga suka senewen karena baju anak jadi kotor ga karuan, makanan masih seabrek harus dibuang, tumpah kena karpet, lengket, pekerjaan rumah jadi nambah dsb.

Sering ngintip Instagram ibu-ibu yang hebat banget tiap hari bisa bikin 2-3 MPASI berbeda buat anaknya itu gimana caranya yah. Saya bingung dan lagi-lagi merasa jadi ibu yang gagal karena saya kok bikin satu MPASI aja lama banget, belum beresin rumah, masak, mandi, cuci piring, nidurin anak, ngajak main, dsb dsb.

Kata orang-orang namanya juga baru belajar makan, masih bayi lagi. But I’m not the most patient and dedicated mom. Lama-lama jadi terbiasa nyetok puree instan karena lebih praktis tinggal panasin di microwave. Tapi emang dasar lidah Indonesia ya, walaupun masih bayi lama-lama anak saya sepertinya ngerasa kalo puree instan yang rasanya sayuran dan buah macem-macem (yang seringkali jarang ada di Indonesia) dan kadang dicampur-campur ga karuan, misal apel sama ayam (beneran ada loh ini dan emang ngaco sih perpaduannya) itu ngga cocok di lidahnya (kadang saya juga ngga tega sih ngasihnya karena ga enak, haha..). Lalu dia mogok makan beberapa hari yang bikin saya jadi senewen lagi.

Khawatir karena anak saya sudah cukup kurus untuk umurnya, saat Alya umur 9 bulan saya mulai coba bikin bubur nasi dicampur sayur dan makanan yang mengandung protein hewani-nabati, ditambah sedikit keju dan unsalted butter atau virgin coconut oil lalu saya haluskan lagi pake blender. Eh anaknya doyan banget! Makanannya habis cepet banget dan dia dengan sukarela membuka mulutnya sendiri minta disuapin lagi. Huhuhuuu terharuu.. Mulai saat itu saya bikin kaya gitu terus aja, tinggal diganti-ganti sayur atau proteinnya. Sekarang buburnya lebih sering saya saring manual supaya bisa diatur tingkat kehalusannya karena perlu dilatih makanan yang lebih padat. Untuk buah, anak saya sekarang lagi seneng makan pisang, pir atau cantaloupe.¬†Alhamdulillah makannya banyak banget, jauh lebih banyak daripada waktu makan puree instan. Anak lahap dan kenyang, ibu super duper bahagia dan moodnya happy terus ūüôā

Berikut adalah daftar pilihan makanan yang biasa saya campur-campur untuk makanan Alya, yang cocok sama selera Indonesia, beririsan dengan bahan makanan keluarga dan terutama gampang dibeli di supermarket. Daftar ini saya buat untuk memudahkan saya memilih menu yang berbeda supaya anak tidak gampang bosan dengan MPASI-nya.

Picture1

Untuk jadwal makannya, walaupun sebenarnya dianjurkan makan 3x dan snack 2x sehari, saya hanya ngasih dia 2x makan berat dan 1x buah setiap hari karena sepertinya dia masih kenyang ASI dan menolak setiap saya tawarkan makanan diantara waktu biasa dia makan dan menyusui. Saya ingat kata dokternya, biarkan anak makan sebanyak yang dia mau, tidak perlu dipaksa. Makannya masih disuapi karena saya tidak tahan berantakan. Pernah beberapa kali saya kasih finger food tapi selalu dihisap-hisap sebentar lalu dibuang. Saya pengen ngajarin dia makan yang lebih padat karena setiap dikasih bubur yang agak kasar sering keselek atau mau muntah. Setiap makan saya dudukkan di high-chair karena kalo ngga, anaknya tolah-toleh kanan kiri dan nunduk terus, saya pusing, haha..

Jadi buat ibu-ibu yang lagi berjuang ngasih makan anaknya, tetap semangat eksperimen bikin beberapa MPASI sampai ketemu yang dia suka ya. It’s getting a little bit easier after that. Jangan kaya saya yang kecewanya kelamaan. Kasian juga anak, they deserves to get our best efforts. Tapi jangan sampai dibikin stress juga yah, we know our conditions best.¬†

Advertisements

ASI sedikit

Saya bukan ibu yang bisa berbangga diri dengan mem-posting di Instagram foto berbotol-botol atau bertumpuk-tumpuk kantong ASI hasil pompa yang disimpan dengan rapi di dalam kulkas khusus. Bukan. ASI saya tidak berlimpah, seringkali malah kurang, tapi mudah-mudahan cukup untuk anak saya, Alya, yang saat ini sudah berumur 10 bulan. Beratnya memang di batas ideal bawah tapi alhamdulillah perkembangannya baik dan normal.

Dulu, saya sering down dengan kondisi saya ini. Gimana ngga, sudah minum berliter-liter air dan susu, makan sayur dan buah, mencoba berbagai macam suplemen (mulai dari pil-pil dengan kandungan katuk, fenugreek dsb, chocolate bars, sampai minuman serbuk), rajin pumping dsb, ASI saya tetap segitu-segitu aja. 1 jam pumping (gantian 10 menit tiap sisi) rata-rata saya hanya dapat 10-30 ml. 3x pumping baru saya bisa mengisi penuh 1 kantong ASI 100 ml. Melihat sekian banyak ibu-ibu bisa berbangga diri mendapat kondisi yang tidak bisa saya peroleh rasanya sedih. Saya merasa menjadi ibu yang gagal, yang masih kurang usaha untuk anaknya.

Apalagi saat baru sampai di Amerika, perbedaan waktu 12 jam dengan di Indonesia membuat badan saya bingung, kehilangan selera makan, waktu makan dan tidur juga jadi terbalik dan berantakan, yang secara langsung mempengaruhi asupan ASI untuk anak saya. Sedih rasanya melihat Alya menangis tiap malam karena lapar sementara ASI saya tidak keluar. Hal ini berlangsung selama beberapa minggu sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membeli susu formula dan mencoba berbagai botol, yang gagal semua karena anak saya menolak mentah-mentah. Alhamdulillah setelah kira-kira satu bulan, jetlag saya hilang, kami mulai bisa beradaptasi dan produksi ASI saya seperti biasa lagi (tidak berlimpah tapi cukup).

Saat masih di Indonesia, saya sering mendapat komentar yang kurang enak, bahkan dari orang-orang terdekat, seperti misalnya:

  • saat anak terus-menerus menangis dan tidurnya kurang nyenyak, “ASInya kurang tuh, dia lapar makanya rewel terus.”
  • saat badan saya tetap berisi sementara anak saya kurus “Gimana sih, kenapa malah ibunya yang gendut, anaknya kecil gini.”
  • saat payudara saya kempes setelah menyusui, “Yah, ini mah ngga ada isinya.”
  • saat menyimpan hasil pompa yang cuma 20 ml di kulkas, “Walah, cuma dapat segitu. Encer banget lagi. Si anu kalau mompa blablabla…”

Saya sedih banget mendengarnya, stress dan mungkin berpengaruh ke produksi ASI juga. Walaupun mungkin maksud di balik berbagai perkataan itu baik, kalau tidak disampaikan secara baik, bagaimana bisa jadi terdengar baik? Dan berbagai asumsi salah yang sudah mendarah daging layaknya pengetahuan umum digunakan untuk mengomentari keadaan saya ini, padahal secara ilmiah sudah terbukti sebaliknya, misalnya:

  • Bayi menangis ya karena itu satu-satunya cara dia berkomunikasi. Penyebabnya juga bisa bermacam-macam, bukan hanya karena ASI-nya kurang.
  • Berat badan ibu tidak ada hubungannya dengan berat badan bayi, yang ditransfer kan ASI, bukan lemak (andaikan ya bisa mentransfer lemak, anak saya pasti gede banget).
  • Payudara kempes setelah menyusui artinya bagus, ASI diserap optimal oleh bayi dan tubuh sedang memberi sinyal untuk memproduksi ASI lagi.
  • Hasil pompa pada kenyataannya bukan merupakan indikator seberapa banyak ASI yang diproduksi oleh ibu karena pompa ASI punya kemampuan terbatas, beda dengan isapan bayi yang jauh lebih efektif. Masalah ASI encer, itu karena lebih banyak foremilk (ASI yang kaya laktosa dan protein penting untuk pertumbuhan otak) daripada hindmilk (ASI yang lebih kental dan mengandung lebih banyak lemak dan bermanfaat untuk pertumbuhan fisik anak). Keduanya sama pentingnya, lebih baik kalau bisa lebih seimbang. Baca artikel ini untuk lebih jelasnya yah.

Informasi-informasi tersebut (dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya ceritakan disini) saya dapat setelah banyak membaca dan menemukan berbagai artikel tentang ibu-ibu dengan kondisi seperti saya: living with low milk supply. Mata saya jadi terbuka dan alhamdulillah, sekarang saya bisa lebih menerima keadaan. Karena tiap perempuan itu berbeda. Semua ibu pasti ingin memberi yang terbaik untuk anaknya tapi ada berbagai macam kondisi yang membuat perjuangan tiap ibu berbeda-beda. Dan setelah saya pikir-pikir, toh saya stay-at-home-mom, ngga pernah pisah sama sekali dari anak. Yang ASI-nya berlimpah itu mungkin ibu-ibu yang bekerja, yang harus pisah tiap hari dari anak atau yang bisa membantu ibu lain yang tidak bisa memberi ASI. Saya mompa juga kalau ada keperluan khusus yang perlu ninggal anak atau bikin susah menyusui langsung, yang jarang sekali. ASI saya juga ngga kurang-kurang amat, cukup untuk anak saya. Frekuensi buang air kecil dan besarnya masih normal, anaknya juga pintar, lincah dan ceria.

Tapi bukan berarti saya berhenti usaha. Saya terus minum (walaupun kadang hanya 2 L per hari), makan sayur, minum suplemen (ngaruh sedikit tapi terus biasa lagi). Alhamdulillah setelah 6 bulan agak terbantu dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Frekuensi menyusui berkurang tapi kebutuhannya semakin meningkat jadi tetap saja harus terus berikhtiar supaya ASI-nya cukup sampai anak 2 tahun. Yang penting usaha dulu.

Jadi, buat ibu-ibu dengan kondisi seperti saya ataupun kondisi lainnya, tetap semangat yah! Kalau berbagai usaha sudah dicoba tapi tidak berhasil, tidak apa-apa, harus belajar ikhlas menerima keadaan diri, doesn’t make us less of a mom. Remember, our kids will always love us!

Personality Test

You have probably taken a lot of personality test before, but this one is a little bit different since they have a certain name for each different combination of traits which makes your personality. I took it a while ago and I thought the result was worth-noting and elaborate. It gives a deeper understanding on your personal traits and provides several means on how you can improve in various aspects.

I’ll share mine here, just a brief.

Apparently they named my type of personality as a Defender.

Screen Shot 2018-03-30 at 21.41.54

As you can read in the picture above, this type of personality is quite unique since it often contradicts its individual traits. So, people like me are very much introverted, however naturally social. Quite conservative but open mind. Sensitive yet very analytical.

We are also meticulous to the point of perfectionism, and though procrastinate, we can always be relied on to get the job done on time, doing everything we can to exceed expectations and delight others. However, we have a tendency to underplay our accomplishments, therefore people are likely to take advantage of our dedication and humbleness by taking the credit.

Interesting, isn’t it? Go take one for yourself here! You will be surprised at how accurate it describes your personality ūüôā

Baby Blues and Postpartum Depression

Depressed-Woman

During Alya’s 9 months-check up, I asked her pediatrician if it was possible for baby blues to come this late. I look okay, don’t I? But apparently I am not. I took a simple test and I was diagnosed being depressed, a little high.

Yeah, I guess so. I feel anxious most of the time, I doubt myself, I can be suddenly sad, I have insomnia and I explode once or twice in a month. I was told to seek out help cause it could be dangerous. But I was a little bit hesitant.

I think no one can really help me but myself. I need to make peace with myself, I need to forgive, I need to learn to let things go, I need to meet more people, I need to build my support system and most importantly, I need to find my own happiness.

After the visit, I decided to go to the library to join baby storytelling session. I met a lot of moms there, having a chat and I felt slightly better. I went home and listened to some music and I felt happier. I talked to my husband, being brutally honest and I felt lighter. I write this post for my blog and I am relieved.

I just need a break.

Being a woman, a wife and a mom at the same time, moreover abroad, is not an easy thing to do. And I just need time to do my own thing, as a motivation to keep on going.

My home is a wreck, but I don’t care as long as I’m not a wreck. It’s okay not to be perfect.

Simpelnya urusan rumah tangga di Amerika

Setelah membaca tulisan Bu Neneng, saya jadi merenung betapa tugas dan tanggung jawab Ibu-ibu, khususnya di Indonesia, itu begitu besar: harus bisa mengurus suami, anak (yang rata-rata lebih dari 1) dan rumah sekaligus di sela-sela berbagai kesibukan (bekerja ataupun beraktivitas sosial). Betapa besarnya ekspektasi dan tekanan untuk ibu-ibu menjaga rumah agar rapi dan bersih setiap hari. Dan betapa rumah-rumah di Indonesia itu sangat high-maintenance. 

stock-vector-set-of-housewife-icon-in-flat-style-homemaker-cleaning-ironing-cook-wash-and-shopping-vector-309449171

Saya baru sekitar 3 bulan tinggal di Amerika, bertiga saja dengan suami dan anak saya yang masih bayi, Alya. Kami menyewa apartemen tipe 1-Bedroom yang cukup luas. Untuk bertiga rasanya lebih dari cukup. Teman-teman kami yang sudah menikah rata-rata menyewa apartemen dengan ukuran jauh lebih kecil.

Sebagai istri dan ibu, tentu saya yang harus bertanggung jawab mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sambil menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak. Alhamdulillah, saya merasa dimudahkan dengan simpelnya urusan rumah tangga di Amerika ini, walaupun terkadang tetap terasa sulit karena anak saya sedang sangat membutuhkan perhatian dan tidak bisa ditinggal-tinggal walaupun hanya ke ruangan sebelah.

Tempat tinggal di Amerika cukup compact dan sederhana. Pilihannya bisa rumah atau apartemen. Keluarga dengan anggota lebih banyak tentu lebih memilih rumah tapi untuk kami apartemen sudah cukup memadai. Perabotan yang diperlukan cukup yang utama seperti meja, sofa, kasur, karpet, dan rak-rak kecil untuk baju anak atau kebutuhan lainnya. Rata-rata lemari sudah built-in dalam bangunan. Model jendela dengan window blind, bukan gorden. Kalau perlu tempat untuk menyimpan barang-barang lain seperti buku-buku, kabel, bahkan bumbu, saya sering reuse kardus-kardus bekas paket Amazon. Lumayan mengurangi sampah dan pengeluaran, hehe.. Tidak ada pekarangan tidak masalah karena banyak taman dimana-mana.

Selanjutnya, disini tidak perlu nyapu dan ngepel setiap hari karena jarang sekali ada debu. Saya biasanya seminggu sekali bersih-bersih pake vacuum cleaner, ngepel lebih jarang lagi. Cuci baju tidak perlu tiap hari juga, cukup 4 hari atau seminggu sekali, dan baju langsung siap dipakai lagi dalam 1,5 jam karena memakai pengering. Setrika tidak perlu untuk tiap baju, apalagi waktu musim dingin karena tertutup jaket tebal terus. Rumah tidak harus selalu rapi karena jarang ada tamu (kalau ada yang mau bertamu pasti harus janjian dulu beberapa hari sebelumnya). Alhamdulillah suami juga maklum dan sangat pengertian, kalau waktu dia pulang kuliah rumah masih berantakan, berarti saya memang belum sempat beres-beres karena harus masak, ngurus Alya atau perlu me-time. Dia tahu kalau saya sudah senggang pasti saya beres-beres, atau kalau saya perlu bantuan dia dengan sukarela mencuci baju ke basement, bersihin apartemen pake vacuum cleaner, gantian memasak atau cuci piring.

Ini yang paling saya suka: rumah disini bersih, ngga ada binatang. Rumah kami di Bekasi suka kedatengan banyak cicak, tikus dan kecoa, yang saya takuti dan jijik banget! Disini paling cuma semut. Kalau sampai ada binatang seperti yang saya sebutin sebelumnya sepertinya kena house inspection dan harus dibasmi dulu sebelum bisa ditinggali.

Selanjutnya, urusan dapur juga tidak kalah simpel.Rak-rak penyimpanan sudah built-in juga sehingga bahan makanan atau peralatan dapur bisa disimpan dengan rapi di dalam. Rata-rata semua tempat tinggal punya oven dan microwave sehingga saya sangat jarang goreng-goreng disini. Sekalinya mau masak yang harus digoreng sekarang rasanya jadi sangat repot. Bikin bumbu atau makanan Alya tinggal pakai food processor. Susahnya mungkin karena bahan makanan yang familiar untuk kami susah ditemui disini sehingga saya harus memutar otak memikirkan menu makanan keluarga yang bahannya gampang dibeli disini dan masih tetap sesuai selera. Saya dan suami juga tidak terlalu strict untuk urusan makanan Alya, kalau sempat bikin sendiri alhamdulillah, tapi kalau mau ngasih puree yang sudah jadi yang kami beli di supermarket dan dikasih teman (yang dapat voucher gratis dari pemerintah tapi anak bayinya ngga suka puree) juga ngga masalah.

Yang penting saya ngga stress, karena ngurus apartemen (yang padahal ngga ada apa-apanya dibanding rumah di Indonesia) dan keluarga, terutama Alya yang lagi sering rewel dan punya separation anxiety, ternyata sangat stressfull! Saya udah beberapa kali mengalami baby blues disini karena ngurus Alya itu takes time and energy banget, saya ngga sempat mengurus diri sendiri, apalagi rumah. Kalau udah gini, saya biasanya ngajak Alya keluar, main ke perpustakaan atau jalan-jalan di sekitar neighborhood karena saya dan dia mungkin lagi sama-sama sumpek di rumah. Atau kalau suami udah pulang, dia langsung take over gantian ngajak main Alya dan memberikan saya sedikit break time supaya bisa istirahat dan menenangkan diri sebentar.

Kembali ke renungan saya di awal tadi, mengurus rumah di Indonesia memang jadi keliatan susaaah sekali karena perbedaan cuaca, budaya dan gaya hidup jika dibandingkan dengan disini, apalagi tanpa bantuan ART. Saya salut sama semua ibu-ibu yang bisa tetap waras di tengah segala tekanan dan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, mungkin karena dekat dengan keluarga dan kedekatan personal dengan tetangga yang susah didapat disini. Apalagi karena saya belum menemukan komunitas yang pas dengan kondisi sekarang (dengan Alya), bahkan dengan sesama orang Indonesia karena yang tinggal di daerah dekat kampus lebih banyak pelajar yang belum menikah. Rata-rata yang sudah berkeluarga dan punya anak tinggal cukup jauh dari sini. Saya jadi membayangkan nanti kalau sudah pulang ke Indonesia sepertinya ingin tinggal di apartemen saja yang relatif lebih dekat ke kantor supaya bisa diurus sendiri dan waktu tidak habis di jalan menghadapi kemacetan.

 

 

 

Rekomendasi Baju Menyusui

Waktu hamil, seiring dengan membesarnya kandungan, saya mulai cari-cari baju yang agak gombrang. Yang biasanya ukuran M jadi ukuran L atau XL. Tapi modelnya masih suka-suka karena belum menyusui. Deket-deket melahirkan saya baru mulai nyari yang bukaan depan (kancing atau zipper) dan coba beli satu baju khusus menyusui (bukaan langsung di kedua sisi- side openings). Setelah melahirkan, dengan frekuensi menyusu bayi yang tinggi banget, ternyata baju bukaan depan itu ribet, kelamaan bukainnya keburu anaknya ngamuk. Sementara yang khusus menyusui praktis banget.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya mau share beberapa brand lokal baju khusus menyusui (maternity/nursing wear) dan breastfeeding-friendly yang semakin banyak bermunculan di Indonesia akhir-akhir ini. Ibu-ibu yang baru punya anak sekarang jadi semakin dimudahkan beraktivitas bersama bayi dengan pilihan baju menyusui yang lebih bervariasi untuk segala acara.

Awal-awal baru melahirkan, baju khusus menyusui dengan bukaan langsung di kedua sisi (tanpa zipper) benar-benar sangat membantu saya. Saat bayi mulai bisa diajak pergi-pergi kemana-mana, baju model gini masih jadi pilihan utama saya tapi karena sekarang banyak kantor dan mall sudah menyediakan ruang menyusui, kadang-saya pakai baju bukaan depan (kancing atau zipper) yang kemudian ditutupi dengan nursing cover saat menyusui. Saat bayi mulai agak gede dan pola menyusuinya sudah lebih teratur, asal ada nursing cover saya sudah tenang, ngga ribet lagi mikirin pake baju apa, mulai model sesuka hati lagi karena saya bisa ngatur dan nyari tempat yang enak saat waktu menyusui anak sudah tiba.

Berikut brand-brand lokal baju khusus menyusui (maternity/nursing clothes) dan breastfeeding-friendly yang pernah saya coba atau sekedar tahu:

NyoNya Nursing Wear dan MamiBelle Nursing Wear

Ini brand pertama yang saya tahu karena owner-nya 2 orang temen kuliah saya dulu. Saya kurang tahu bedanya apa sampai dibikin 2 brand tapi yang jelas semua bajunya jenis bukaan langsung di kedua sisi (side openings). Baju menyusui pertama yang saya beli dari sini dan saya suka bangeet, praktis, bahannya enak dan masih awet bagus sampai sekarang. Harga normalnya rata-rata > 200 ribuan. Variasinya banyak, mulai dari manset, kaos, blus, celana sampai yang lebih luxe-nya, dress buat kondangan. Sayang, lingkar lengannya terlalu pas buat saya yang berlengan besar. Tapi model-model terbarunya sepertinya lengannya agak lebih longgar.

Website: Nyonya Nursing Wear, Mamibelle Nursing Wear

Instagram: @nyonya_nursingwear, @nyonya_catalog, @nyonyaluxe_maternity, @mamibelle_nursingwear

Mommina Nursing Cloth

Model bajunya casual, banyak model batik, kualitasnya bagus dan harganya di kisaran 150ribuan. Lingkar kepalanya agak kecil sehingga masuknya harus sedikit dipaksa. Tapi saya suka banget pakenya karena keliatan kaya baju maen, sampe belel saking seringnya dipake, hehe.. dan yang penting harganya lebih murah.

Instagram: @mommina_nursingcloth

Dua itu aja yang pernah saya coba produknya. Selanjutnya yang saya tahu:

  • Instagram: @emeno_nursing, @emeno_catalog -> bajunya simpel dan casual, harganya di kisaran 200ribuan. Banyak model yang saya suka tapi belum pernah nyoba karena selalu udah sold out, hiks.
  • Instagram: @elmomiree –> bajunya simpel, cerah, banyak model yang pasangan sama anak. Belum pernah nyoba karena rata-rata modelnya lengan pendek atau 3/4.

Sebenernya ada lagi brand baju menyusui lain yang pernah saya coba, tapi menurut saya ini lebih ke kategori breastfeeding-friendly karena model bajunya rata-rata bukan yang side openings tapi kancing atau zipper.

Selanjutnya adalah brand-brand baju wanita secara umum yang sering mengeluarkan model-model breastfeeding-friendly. Akhir-akhir ini saya lebih sering beli baju dari brand-brand ini karena harga baju khusus menyusui mahal buat standar saya dan yang ini memberikan alternatif lebih murah (<200 ribuan).

  • Instagram: @roshandmom
  • Website: Vanilla Hijab, Instagram: @vanillahijab
  • Website: Raisa Cloth, Instagram: @raisacloth
  • Instagram: @gonegani
  • Instagram: @qamari.id

Yang perlu diingat, karena semua brand di atas rata-rata memasarkan lewat Instagram dan produksinya terbatas, ibu-ibu sekalian kalau mau cari baju khusus menyusui atau breastfeeding-friendly harus siap-siap rebutan sama ibu-ibu atau remaja-remaja lain. Harus rajin mantengin feed Instagram, Instagram Story, dll karena disitu dikasih tau model-model baju terbaru, kapan bisa mulai pesan, gimana caranya, dsb. Jangan berharap banyak dan buru-buru membayangkan dipasangin pake kerudung yang mana dulu karena belum tentu kebagian, hehe.. (Pengalaman banget).

Saya yang sekarang sedang tinggal di Amerika sampai bela-belain beberapa kali begadang (Indonesia-Amerika beda 12 jam) buat kirim format order dan nunggu balesan, demi nyari baju menyusui murah. Karena disini rata-rata harganya > USD 20 (atau 250 ribuan ke atas) padahal modelnya biasa aja. Ukurannya juga agak tricky karena bule-bule kan hamil atau abis melahirkan juga rata-rata tetap tinggi- langsing sementara saya nyari model¬†petite and loose sehingga saya kurang yakin mau beli baju menyusui disini. Jadinya saya mantengin Instagram brand-brand baju menyusui di Indonesia, pesen dan bayar sendiri pake mobile banking, dikirim ke rumah orangtua, terus minta dikirimin kesini deh. Ga masalah nyampe berbulan-bulan juga, hahaha…

Yah, begitulah sharing saya tentang baju-baju menyusui. Kalau ibu-ibu ada rekomendasi lain bisa di-share juga yah.

 

10 years ago

Looking back, I realized the fact that I have been (inconsistently) writing in this blog since 2008, 10 years ago! Re-reading my early blog posts, I think I really grow along with all my writings.

10 years ago, I was an immature college student who wrote posts about trivial things, had fear and uncertainty about what lies ahead in the future.

10 years later, I had my future figured out partly. Some things I could only dream about 10 years ago came true, one of them was studying abroad. Been through some ups and downs physically and mentally, I am still immature. But I am now married and also a mother. Still, I have fear and uncertainty about what lies ahead in the future. At this time, I am still figuring out what do I want to be and what do I want to do with my life.

Ah, life…

Should get back to my phone and watch my daughter’s pictures and videos. Works wonder dispelling all my worries.