I’m moving!

Yes, I’m moving to another site:

https://www.micania.com/

I always want to have a clean-look blog and a personal-named domain showing a bit of my personal touch. And I have it now!

I’m moving some of my posts to my new site, but I will keep this blog on since it has been an un-living witness of how I (and my writings) lived and grew during the past 10 years.

I’m still here, just moving out to a new home. So, please drop by if you have time! 🙂

Advertisements

Menu MPASI Alya

Setelah Alya 6 bulan, ada tantangan baru untuk saya sebagai ibu: ngasih makan! Saya baru merasakan, waktu makan anak itu bikin stress banget, apalagi di awal-awal belajar seperti sekarang ini. Udah dibikinin sepenuh hati eh anaknya ternyata ngga suka, ditolak, ngga dimakan sama sekali, disembur-sembur, ditumpahin, dibuang, dsb. Saya jadi ngga semangat bikin MPASI dan seringkali lebih memilih puree instan yang banyak tersedia di supermarket dan dikasih temen seabrek-abrek karena anaknya ngga doyan. Saya baru semangat bikin homemade MPASI lagi beberapa hari setelah kecewa. Saya juga suka senewen karena baju anak jadi kotor ga karuan, makanan masih seabrek harus dibuang, tumpah kena karpet, lengket, pekerjaan rumah jadi nambah dsb.

Sering ngintip Instagram ibu-ibu yang hebat banget tiap hari bisa bikin 2-3 MPASI berbeda buat anaknya itu gimana caranya yah. Saya bingung dan lagi-lagi merasa jadi ibu yang gagal karena saya kok bikin satu MPASI aja lama banget, belum beresin rumah, masak, mandi, cuci piring, nidurin anak, ngajak main, dsb dsb.

Kata orang-orang namanya juga baru belajar makan, masih bayi lagi. But I’m not the most patient and dedicated mom. Lama-lama jadi terbiasa nyetok puree instan karena lebih praktis tinggal panasin di microwave. Tapi emang dasar lidah Indonesia ya, walaupun masih bayi lama-lama anak saya sepertinya ngerasa kalo puree instan yang rasanya sayuran dan buah macem-macem (yang seringkali jarang ada di Indonesia) dan kadang dicampur-campur ga karuan, misal apel sama ayam (beneran ada loh ini dan emang ngaco sih perpaduannya) itu ngga cocok di lidahnya (kadang saya juga ngga tega sih ngasihnya karena ga enak, haha..). Lalu dia mogok makan beberapa hari yang bikin saya jadi senewen lagi.

Khawatir karena anak saya sudah cukup kurus untuk umurnya, saya nge-follow banyak akun Instagram tentang MPASI dan nemu beberapa yang cocok sama saya, salah satunya @kanayaernesta. Duh, ibu ini panutan banget, akun Instagramnya sangat bermanfaat untuk ibu-ibu baru yang anaknya baru dikenalin sama MPASI. Penjelasan cara masaknya detail, bahan dan cara masaknya juga bervariasi jadi anak bisa mengenal lebih banyak rasa makanan. Alhamdulillah, makannya lahap, walaupun kadang kalau lagi ngga mood ya cuma sedikit yang masuk. Kalau saya lagi perlu bikin yang cepet, saya tinggal bikin bubur nasi dicampur sayur dan makanan yang mengandung protein hewani-nabati, ditambah sedikit keju dan unsalted butter atau virgin coconut oil lalu saya haluskan lagi pake blender atau disaring manual. Eh anaknya doyan banget! Makanannya habis cepet banget dan dia dengan sukarela membuka mulutnya sendiri minta disuapin lagi. Huhuhuuu terharuu.. Mulai saat itu saya bikin kaya gitu terus aja, tinggal diganti-ganti sayur atau proteinnya. Untuk buah, Alya sekarang lagi seneng makan pisang, pir atau cantaloupe (dikukus). Alhamdulillah makannya banyak banget, jauh lebih banyak daripada waktu makan puree instan. Anak lahap dan kenyang, ibu super duper bahagia dan moodnya happy terus 🙂

Berikut adalah daftar pilihan makanan yang biasa saya campur-campur untuk makanan Alya, yang cocok sama selera Indonesia, beririsan dengan bahan makanan keluarga dan terutama gampang dibeli di supermarket disini. Daftar ini saya buat untuk memudahkan saya memilih menu yang berbeda supaya anak tidak gampang bosan dengan MPASI-nya.

Picture1

Untuk jadwal makannya, walaupun sebenarnya dianjurkan makan 3x dan snack 2x sehari, saya hanya ngasih dia 2x makan berat dan 1x buah setiap hari karena sepertinya dia masih kenyang ASI dan menolak setiap saya tawarkan makanan diantara waktu biasa dia makan dan menyusui. Saya ingat kata dokternya, biarkan anak makan sebanyak yang dia mau, tidak perlu dipaksa. Makannya masih disuapi karena saya tidak tahan berantakan. Pernah beberapa kali saya kasih finger food tapi selalu dihisap-hisap sebentar lalu dibuang. Saya pengen ngajarin dia makan yang lebih padat karena setiap dikasih bubur yang agak kasar sering keselek atau mau muntah. Setiap makan saya dudukkan di high-chair karena kalo ngga, anaknya tolah-toleh kanan kiri dan nunduk terus, saya pusing, haha..

Jadi buat ibu-ibu yang lagi berjuang ngasih makan anaknya, tetap semangat eksperimen bikin beberapa MPASI sampai ketemu yang dia suka ya. It’s getting a little bit easier after that. Jangan kaya saya yang kecewanya kelamaan. Kasian juga anak, they deserves to get our best efforts. Tapi jangan sampai dibikin stress juga yah, we know our conditions best. 

10 years ago

Looking back, I realized the fact that I have been (inconsistently) writing in this blog since 2008, 10 years ago! Re-reading my early blog posts, I think I really grow along with all my writings.

10 years ago, I was an immature college student who wrote posts about trivial things, had fear and uncertainty about what lies ahead in the future.

10 years later, I had my future figured out partly. Some things I could only dream about 10 years ago came true, one of them was studying abroad. Been through some ups and downs physically and mentally, I am still immature. But I am now married and also a mother. Still, I have fear and uncertainty about what lies ahead in the future. At this time, I am still figuring out what do I want to be and what do I want to do with my life.

Ah, life…

Should get back to my phone and watch my daughter’s pictures and videos. Works wonder dispelling all my worries.

 

Things I wish I knew before I gave birth to my child

There are some things I wish I knew before I gave birth to my (first) child. I hope you’ll find it useful.

 

  • Whatever you’ll do with your baby, people will find something to comment about. My suggestions are to read a lot, google a lot, ask a lot and learn a lot. Then, just be firm with your decision. Mother knows what’s best for her children.

 

  • During the pregnancy, your belly will expand to accommodate the growth of the baby and you will feel itch all over it. I’ve been warned not to scratch it but no one can really feel how bad it was than myself. Indonesia is a tropical country, Jakarta is a hot metropolitan area, and the air conditioner in my office was broken. Because of those reasons above, I was sweating all over and feeling itches all over my body. I couldn’t bear and stand it so I scratched it again and again. Since I didn’t have full-body mirror and had not been able to look under my belly for months, I was quite shocked to find out that it was already full of purple, red and brown stripes or stretch marks. Four months after giving birth, they’re still there, unchanged, getting even more prominent. It is a badge of motherhood but if I can have it disappeared, I would be happier since it makes me lose some confidence of my body.

 

  • Moms who decide to breastfeed her baby probably won’t be in such a hurry to get a breast-pump after giving birth. But, consider having it sooner than later. Working moms should build their milk-stash early while work-at-home moms should also prepare a certain amount of it, just in case they need to leave the baby for a while.

 

  • First time moms should opt for manual breast pump in the beginning then shift to electric type after getting a steady amount of milk. I chose the electric type from the start for efficiency reason then realised that I did not get the satisfying amount of milk. I tried the manual pump and turned out getting better result.

 

  • You will end up having a lot of everything, especially if it is your first child. Just buy an adequate amount of each items ’cause there’s a big chance that you will get more as gifts from family and friends. For me, I ended up having a lot of baby blanket and bath towels, some of them are still in its packaging. And as I was saying before, because I used electric breast pump in the beginning, I also ended up stacking some bottles suitable for that pump but later neglected them after shifting to manual breast pump because they had different neck size. I also have different types of bottle-nipples which I don’t use anymore since: 1) the hole is too small for my baby and she got angry because it was quite difficult to suck the milk in, 2) The frequency of direct-breastfeeding is increased and she refuse to drink breastmilk from bottle.

 

  • Open your baby-gifts immediately. I delayed it cause I assumed that I will get the same stuffs over and over again while I needed something else. I bought what I need and found out that the unopened gift was exactly the stuff that I needed and had just bought earlier. What a bummer! I also got a lot of baby clothes specific for certain months and put it somewhere to be opened when my baby has reached that months. But babies grow fast and suddenly you ran out of clothes. Out of curiosity, I opened some clothes for 6 months-baby and found out that they were even already too small for my 3 months old baby! What a waste.

 

  • Rent rather than buy, think twice before rent. You don’t have to always buy everything, Nowadays, there’s an option to rent some stuffs to test out whether they are suitable for you or for your baby before finally buying it. But, even before rent, think again. Do you really need that item? Take me as an example. I was feeling the urge to buy baby car seat but I would only use it for a short moment. So I decided to get a baby car seat rent for 2 months since I wanted to get around everywhere with my baby without having to wait someone else to accompany me. Suddenly after renting, I didn’t feel like driving by myself cause my baby was always want to direct-breastfeed, the traffic was always terrible and it was much easier to get around everywhere with Uber. So, the baby car seat is still there, untouched and unused, until the rent time is up.

 

Well, that’s it for now. I will update more when I find out more later.

 

Being a Mom

Words are not enough to describe all emotions I feel during my 38 weeks pregnancy and the time after I have my baby. 

Selama hamil, walaupun tiap bulan di-USG dan sedikit demi sedikit merasakan tendangan yang semakin kuat, rasanya masih susah dipercaya kalau ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam perut saya. Bahkan sampai ketika si bayi diletakkan di atas tubuh saya sesaat setelah lahir, rasanya saya masih susah percaya. It feels unreal until it gets real. 

Jangan ditanya rasa sakitnya saat hamil dan melahirkan. Semua terasa, mulai dari sakit pinggang, kram kaki tengah malam, sesak karena heartburn, dan rasa mulas yang luar biasa. Saya sudah pernah ‘diperingatkan’ oleh suster-suster dan ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan soal rasa mulas ini dalam berbagai sesi senam hamil tapi I guess nothing can really prepare you for it than the experience itself. Rasanya penjelasan kalau mulas sebelum melahirkan itu seperti mau buang air besar adalah pernyataan yang terlalu sederhana dan underrated. Memang rasanya seperti itu tapi jauh, jauh, jauh lebih hebat. Belum lagi saat dijahit setelah melahirkan dan konstipasi yang menyusul sampai 2 bulan setelahnya.

Hebatnya, Allah menciptakan wanita dengan kemampuan menahan semua rasa sakit itu. Makhluk kecil yang keluar dari perut kita tumbuh semakin menakjubkan dan membuat kita lupa semua rasa sakit yang pernah terasa selama hamil dan melahirkan dia ke dunia.

It’s indescribable. Suddenly our world changes. I am no longer who I am before. Rasanya saya sanggup berkorban apa saja untuk memastikan makhluk kecil ini tumbuh sehat. Our child becomes our source of happiness and sorrow. Saat dia tidur dengan tenang rasanya hati ini damai dan bahagia. Saat dia menangis terisak karena harus diimunisasi, diambil darah untuk tes lab, atau ditindik, rasanya hati saya perih sekali. Tapi saya percaya semua Ibu berusaha mengambil keputusan terbaik untuk anaknya, diimunisasi atau tidak, asi atau sufor, ditindik atau tidak, dsb. Tentu saja harus rajin mencari informasi, lewat internet atau bertanya pengalaman orang-orang, lalu dipilah-pilah lagi sesuai yang kita yakini cocok untuk anak kita.

Setelah menjadi Ibu baru saya tahu rasanya di-judge dan dikomentari orang-orang soal keputusan kita untuk anak yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah memang saya mengambil keputusan yang benar, apa saya Ibu yang kejam dengan keputusan yang saya ambil ini, apa anak saya tersiksa dengan keputusan saya. Pantas saja ada istilah ’emak-emak baper’ karena memang begitulah rasanya.

Itulah kenapa saat bertemu dengan ibu-ibu muda lain saya berusaha keras menjaga perkataan, membesarkan hati dan menenangkan mereka dengan pengalaman saya, karena saya tahu rasanya tidak enak di-judge. Bulan-bulan pertama setelah melahirkan rasanya sangat stressful karena bayi selalu terbangun, ibu capek kurang tidur dan tidak bisa beraktivitas lain. Tidak perlulah kita menambah keruwetan dengan komentar-komentar yang kurang sedap. Lebih baik cari cara yang baik untuk menyampaikan masukan.

Jadi, untuk para Ibu lama dan Ibu baru, keep smile ya. It’s all worth it 🙂

 

 

Belajar masak

niat-kemauan-modal-utama-saat-belajar-masak-2eqerk2zzv

Memasak harusnya jadi kemampuan dasar yang saya kuasai. Tapi saya ngga pernah terlalu tertarik buat memasak sampai saat ini, setelah nikah dan punya rumah sendiri. Mungkin karena jadi kebutuhan ya, tinggal cuma berdua sama suami plus sama yang beberes, siapa lagi yang mesti nyiapin makanan kalau bukan saya.

Saya ngga tiap hari masak, kalau lagi pengen aja. Untungnya suami juga ngga nuntut macem-macem, mungkin karena tau kemampuan saya masih sangat terbatas, haha.. Kalau mesti beli ya beli aja, banyak pilihan juga di deket rumah.

Kalo dipikir-pikir, ketidaktertarikan saya sama masak-memasak sebenernya bisa jadi karena dari kecil udah ada bibi yang ikut keluarga. Saya terbiasa tinggal makan aja, kalaupun bantu paling yang remeh temeh aja.

Bahkan setelah kuliah pun, bisa dibilang pengetahuan memasak saya nol besar. Paling mentok bikin telor. Goreng-goreng pun saya suka ragu, ini teh udah mateng belum yaa.. Waktu kuliah di luar, karena yang makan cuma saya sendiri dan di dorm ada oven, biasanya saya belanja yang praktis-praktis aja, yang tinggal masukin ke oven. Paling mentok ngungkep ayam pake bumbu instan bawa dari Indo terus tinggal goreng aja.

Makanya pas ada acara di kampus, dimana tiap perwakilan negara harus nyiapin makanan khas negaranya, saya panik karena ga pernah masak heboh apalagi untuk skala yang lumayan besar kaya gitu. Saya akhirnya memutuskan bikin mie goreng, lengkap pake sayuran dan daging ayam. Tapi batch pertama gagal, jadi mie goreng seabrek-abrek itu saya buang, huhuu.. Terus bikin lagi dan alhamdulillah sukses dapet pujian orang-orang.

Setelah nikah baru deh mau ngga mau belajar masak. Karena masih tinggal sama keluarga suami, jadi saya berguru sama Ibu mertua saya yang jago masak. Kebetulan selera keluarga suami saya masakan rumahan Indonesia, jadi saya belajar bikin bumbu kuning dan bumbu balado yang bisa dipake buat bikin segala macem, mulai dari opor, ngungkep ayam, sambel goreng kentang, nasi goreng, ayam cabe, dsb. Tapi karena di rumah Ibu mertua saya ada bibi juga jadi keterlibatan saya tetep terbatas juga.

Baru deh setelah pindah ke rumah sendiri, mau ngga mau semuanya harus dikerjain sendiri, mulai dari belanja bumbu dan bahan ke pasar, nyuci, bersihin, motong-motong, ngulek sampe masaknya. Suka rada ragu juga sih ini bumbunya udah pas belum ya, tapi karena yang makan cuma saya sama suami jadi saya pede-pede aja. Beda kalo masak di rumah keluarga suami yang anggotanya banyak, saya suka ngga pede takut ngga sesuai selera semua orang, hehe..

Sekarang alhamdulillah udah bisa masak lumayan banyak, mulai dari opor, kari daging, beef teriyaki, ayam kecap, ayam ungkep, sayur, sop, sambel goreng ati, dll. Itu juga kadang ada yang pake bumbu jadi beli di supermarket atau pasar. Emang sih masih belum secanggih Ibu mertua saya tapi alhamdulillah yang penting suami mau makan udah seneng, apalagi muji, hehe..

Target selanjutnya saya mau belajar bikin rawon dan sop buntut. Tapi karena belum punya panci prestonya jadinya belum berani eksperimen di rumah sendiri. Kalo ini harus berguru khusus dulu deh sama Ibu mertua saya.

Ibu saya sebenernya jago masak juga tapi karena saya masakin buat suami, khawatir seleranya beda sama yang dia biasa makan di rumah. Jadi resep makanan yang biasa dimasakin Ibu, saya masak dengan porsi lebih sedikit, takut ngga abis.

Tapi saya bisa dengan pede bilang kalo Ibu saya lebih banyak eksperimen di kue, puding, dan masakan lain kaya tom yum, pasta, sushi, takoyaki, suki, dll. Tapi lagi, karena Ibu saya seringnya jauh dan saya juga baru pindahan jadi peralatan masak masih terbatas, saya belum terlalu fokus untuk berguru masak sama Ibu saya.

Melihat kemampuan masak 2 Ibu saya yang mantap, seharusnya saya bisa memanfaatkan seoptimal mungkin ya untuk belajar.  Hikmah yang saya ambil dari sini, nanti kalo punya anak cewek harus saya ajarin masak sejak dini, biar bisa survive, terampil dan ngga kelabakan pas gede kaya saya.

 

Pregnancy+

Buat ibu-ibu yang baru pertama hamil kaya saya, saya saranin download aplikasi Pregnancy+ deh di HP. Membantu banget. Kan banyak tuh yang udah tau hamil pas masih awal-awal sambil ga tau apa-apa tea tapi buat nanya-nanya ke orang lain atau bahkan ke keluarga sendiri kok kaya terlalu awal juga yah. Nah, ini dia solusinya! (iklan pisan, kaya yang di-endorse aja haha..)

Tapi beneran deh, aplikasi ini lengkap banget infonya, dari apa yang terjadi tiap hari dan tiap minggunya sama tubuh dan jabang bayi kita saat hamil, panjang dan berat standar si bayi, ukurannya kira-kira udah segede apa tiap minggu, foto USG 2D dan 3D bayi, tracking berat badan kita, sampe tempat nyatet jadwal kunjungan ke dokter dan ide nama-nama bayi cewek atau cowok.

Saya yang tinggalnya jauh dari Ibu dan ga bisa setiap saat nanya juga ke Ibu mertua, terbantu banget sama segala informasi yang disediakan aplikasi ini. Di saat saya bingung ini badan kok rasanya gini ya. Mau nanya entar ketauan hamil, padahal belum mau bilang-bilang. Diem-diem aja malah panik dan khawatir sendiri. Eh, alhamdulillah info yang disediain hari itu ternyata ngejelasin tentang hal yang lagi saya pertanyakan itu. Jadi saya juga bisa cerita ke suami kalo ternyata keluhan saya yang kemarin-kemarin itu penyebabnya begini looh, blablablabla.. suami jadi ngga was-was lagi.

Tapi sayangnya, aplikasi ini cuma free sampai hari ke-99, begitu saya mau buka hari ke-100 ternyata harus bayar, hiks.. Sempet berkontemplasi beberapa lama sih, seminggu lebih ada kayanya, kira-kira worth it ngga sih bayar buat aplikasi ini, abis ngga punya kartu kredit. Tapi karena udah jadi kebiasaan tiap hari untuk ngecek info disini, selama beberapa hari ngga bisa akses aplikasi saya jadi merasa sedikit kehilangan arah, akhirnya bilang ke suami buat pinjem kartu kredit dan bayar kelanjutannya sampe tamat (ngelahirin). Harganya kalo ngga salah Rp 69ribu.

Begitu udah bisa diakses lagi, saya ngebut baca info seminggu terakhir yang saya ketinggalan dan nyesel banget kenapa pake mikir lama buat bayar aplikasi ini. Keluhan-keluhan saya selama seminggu terakhir ternyata ada jawabannya disini. Tapi yaudahlah, yang penting udah bisa lagi.

Lewat aplikasi ini saya juga jadi bisa ngebandingin berat badan bayi saya sama standar normalnya harusnya segimana. Eh ternyata, dari awal berat bayi saya udah jauh meninggalkan standar, haha.. Saya segala dimakan sih, soalnya ngga ada yang bikin mual atau muntah, semua makanan enak dan saya makan semua yang enak, hehe..

Picture1

Tapi paling kaget waktu kontrol di minggu ke-34, dokternya bilang minggu ini standarnya 2300-2400 gram ya Bu, eh anak saya ternyata 2600 gram lebih. Saya inget-inget lagi, terakhir kontrol itu hampir sebulanan yang lalu karena dokternya cuti makanya saya jadi ngerasa agak bebas dan banyak makan-minum yang dingin dan manis. Abisnya makin lama makin gerah banget, dan hanya makanan-minuman dingin manis yang bisa menyegarkan dahaga dan bikin saya hepi lagi. Eh, anaknya malah jadi kegedean. Dokter terus wanti-wanti, 2 minggu lagi beratnya saya harap tetep di kisaran ini yah. Waduh, gimana caranya ya dok?

2 minggu selanjutnya saya lewati dengan was-was, makan ngga tenang tapi tetep banyak, minuman dingin manis saya kurangiiin banget. Begitu kontrol, alhamdulillah berat badan saya ngga berubah jauh dari 2 minggu lalu, tapi begitu dicek dokter, eh anaknya ko malah nambah 300 gram jadi 2,9 kg!! Lemes deh sama panik. Harus gimana lagi biar anaknya ngga naik drastis berat badannya. Mana gula darah saya rendah, jadi kaya simalakama: kurang makan, berat anaknya ngga naik tapi saya pusing banget. Kalo makan, berat anaknya naik tapi saya seger. Emang lebih gampang itu naikin daripada nurunin yah.

“Ibu, ini anaknya udah 2,9 kg di minggu ke-36. Kalau mau lahir normal, jangan kegedean anaknya nanti Ibu susah ngeluarinnya. Mulai sekarang minumnya air putih aja, kurangin nasi dan yang manis-manis.”, dokter ngasih wanti-wanti lagi.

Hari pertama kedua setelah kontrol, saya jadi ngga makan nasi sama sekali tapi banyakin sayur dan lauk. Ibu saya yang udah mulai nemenin di rumah semenjak saya cuti terus nawarin nasi karena khawatir asupan nutrisi saya malah kurang tapi saya tetep nolak.

Tapi emang dasar lidah orang Indonesia ya, hari ketiga keempat saya ngga kuat terus makannya heboh lagi pake nasi porsi normal. Untungnya hari Sabtu, pas saya jadwal kontrol itu, hari pertama puasa Ramadhan ini, jadi saya ikutan puasa deh sambil khawatir jangan-jangan anaknya udah 3 kg lebih soalnya saya ngerasa perut saya makin gede aja kesini-kesini.

Begitu ketemu dokter, ditanya, “Berat bayinya minggu lalu berapa sih?”

“Kalo ngga salah 2,914 kg deh dok.”

“Ibu puasa?”

“Iya dok.”

“Bagus bagus,  ini berat anaknya turun dikit sih jadi 2,8 kg”

Wah, artinya sesuai standar berat bayi 37 minggu di Pregnancy+!! Alhamdulillah, senengnya luar biasa. Artinya seminggu ke depan saya bisa makan dengan tenang, haha.. Ternyata puasa ngaruh banget yah. Saya beberapa kali ngajak ngobrol bayi saya mencoba ngasih pengertian dan nguatin dia juga supaya ngga kaget diajak puasa.

Udah dari 3 minggu lalu dokter juga nanyain apa ASI saya udah keluar. Sayangnya belum sampe sekarang, khawatir lagi deh. Kenapa yah? Saya udah rajin bersihin, udah banyakin sayur tapi belum ada tanda-tanda kesitu. Dokter akhirnya nyaranin supaya frekuensi makan vitamin pelancar ASI-nya ditambahin jadi 2x sehari. Mudah-mudahan berhasil deh.

Minggu depan pas jalan 38 minggu, jadwalnya saya periksa panggul untuk menentukan apa saya bisa lahiran normal dan berapa baiknya ukuran bayi saya supaya bisa keluar dengan lancar lewat panggul saya. Sejauh ini sih dari hasil kontrol, posisi bayi saya kepalanya udah di bawah dan udah masuk rongga panggul makanya kadang kerasa sensasi keteken-keteken gitu. Artinya sebentar lagi nih, deg-degan deh.

Bismillah… Semoga dilancarkan dan diberi kemudahan. Mohon doanya ya 🙂