0

Things I wish I knew before I gave birth to my child

There are some things I wish I knew before I gave birth to my (first) child. I hope you’ll find it useful.

 

  • Whatever you’ll do with your baby, people will find something to comment about. My suggestions are to read a lot, google a lot, ask a lot and learn a lot. Then, just be firm with your decision. Mother knows what’s best for her children.

 

  • During the pregnancy, your belly will expand to accommodate the growth of the baby and you will feel itch all over it. I’ve been warned not to scratch it but no one can really feel how bad it was than myself. Indonesia is a tropical country, Jakarta is a hot metropolitan area, and the air conditioner in my office was broken. Because of those reasons above, I was sweating all over and feeling itches all over my body. I couldn’t bear and stand it so I scratched it again and again. Since I didn’t have full-body mirror and had not been able to look under my belly for months, I was quite shocked to find out that it was already full of purple, red and brown stripes or stretch marks. Four months after giving birth, they’re still there, unchanged, getting even more prominent. It is a badge of motherhood but if I can have it disappeared, I would be happier since it makes me lose some confidence of my body.

 

  • Moms who decide to breastfeed her baby probably won’t be in such a hurry to get a breast-pump after giving birth. But, consider having it sooner than later. Working moms should build their milk-stash early while work-at-home moms should also prepare a certain amount of it, just in case they need to leave the baby for a while.

 

  • First time moms should opt for manual breast pump in the beginning then shift to electric type after getting a steady amount of milk. I chose the electric type from the start for efficiency reason then realised that I did not get the satisfying amount of milk. I tried the manual pump and turned out getting better result.

 

  • You will end up having a lot of everything, especially if it is your first child. Just buy an adequate amount of each items ’cause there’s a big chance that you will get more as gifts from family and friends. For me, I ended up having a lot of baby blanket and bath towels, some of them are still in its packaging. And as I was saying before, because I used electric breast pump in the beginning, I also ended up stacking some bottles suitable for that pump but later neglected them after shifting to manual breast pump because they had different neck size. I also have different types of bottle-nipples which I don’t use anymore since: 1) the hole is too small for my baby and she got angry because it was quite difficult to suck the milk in, 2) The frequency of direct-breastfeeding is increased and she refuse to drink breastmilk from bottle.

 

  • Open your baby-gifts immediately. I delayed it cause I assumed that I will get the same stuffs over and over again while I needed something else. I bought what I need and found out that the unopened gift was exactly the stuff that I needed and had just bought earlier. What a bummer! I also got a lot of baby clothes specific for certain months and put it somewhere to be opened when my baby has reached that months. But babies grow fast and suddenly you ran out of clothes. Out of curiosity, I opened some clothes for 6 months-baby and found out that they were even already too small for my 3 months old baby! What a waste.

 

  • Rent rather than buy, think twice before rent. You don’t have to always buy everything, Nowadays, there’s an option to rent some stuffs to test out whether they are suitable for you or for your baby before finally buying it. But, even before rent, think again. Do you really need that item? Take me as an example. I was feeling the urge to buy baby car seat but I would only use it for a short moment. So I decided to get a baby car seat rent for 2 months since I wanted to get around everywhere with my baby without having to wait someone else to accompany me. Suddenly after renting, I didn’t feel like driving by myself cause my baby was always want to direct-breastfeed, the traffic was always terrible and it was much easier to get around everywhere with Uber. So, the baby car seat is still there, untouched and unused, until the rent time is up.

 

Well, that’s it for now. I will update more when I find out more later.

 

Advertisements
0

Being a Mom

Words are not enough to describe all emotions I feel during my 38 weeks pregnancy and the time after I have my baby. 

Selama hamil, walaupun tiap bulan di-USG dan sedikit demi sedikit merasakan tendangan yang semakin kuat, rasanya masih susah dipercaya kalau ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam perut saya. Bahkan sampai ketika si bayi diletakkan di atas tubuh saya sesaat setelah lahir, rasanya saya masih susah percaya. It feels unreal until it gets real. 

Jangan ditanya rasa sakitnya saat hamil dan melahirkan. Semua terasa, mulai dari sakit pinggang, kram kaki tengah malam, sesak karena heartburn, dan rasa mulas yang luar biasa. Saya sudah pernah ‘diperingatkan’ oleh suster-suster dan ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan soal rasa mulas ini dalam berbagai sesi senam hamil tapi I guess nothing can really prepare you for it than the experience itself. Rasanya penjelasan kalau mulas sebelum melahirkan itu seperti mau buang air besar adalah pernyataan yang terlalu sederhana dan underrated. Memang rasanya seperti itu tapi jauh, jauh, jauh lebih hebat. Belum lagi saat dijahit setelah melahirkan dan konstipasi yang menyusul sampai 2 bulan setelahnya.

Hebatnya, Allah menciptakan wanita dengan kemampuan menahan semua rasa sakit itu. Makhluk kecil yang keluar dari perut kita tumbuh semakin menakjubkan dan membuat kita lupa semua rasa sakit yang pernah terasa selama hamil dan melahirkan dia ke dunia.

It’s indescribable. Suddenly our world changes. I am no longer who I am before. Rasanya saya sanggup berkorban apa saja untuk memastikan makhluk kecil ini tumbuh sehat. Our child becomes our source of happiness and sorrow. Saat dia tidur dengan tenang rasanya hati ini damai dan bahagia. Saat dia menangis terisak karena harus diimunisasi, diambil darah untuk tes lab, atau ditindik, rasanya hati saya perih sekali. Tapi saya percaya semua Ibu berusaha mengambil keputusan terbaik untuk anaknya, diimunisasi atau tidak, asi atau sufor, ditindik atau tidak, dsb. Tentu saja harus rajin mencari informasi, lewat internet atau bertanya pengalaman orang-orang, lalu dipilah-pilah lagi sesuai yang kita yakini cocok untuk anak kita.

Setelah menjadi Ibu baru saya tahu rasanya di-judge dan dikomentari orang-orang soal keputusan kita untuk anak yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah memang saya mengambil keputusan yang benar, apa saya Ibu yang kejam dengan keputusan yang saya ambil ini, apa anak saya tersiksa dengan keputusan saya. Pantas saja ada istilah ’emak-emak baper’ karena memang begitulah rasanya.

Itulah kenapa saat bertemu dengan ibu-ibu muda lain saya berusaha keras menjaga perkataan, membesarkan hati dan menenangkan mereka dengan pengalaman saya, karena saya tahu rasanya tidak enak di-judge. Bulan-bulan pertama setelah melahirkan rasanya sangat stressful karena bayi selalu terbangun, ibu capek kurang tidur dan tidak bisa beraktivitas lain. Tidak perlulah kita menambah keruwetan dengan komentar-komentar yang kurang sedap. Lebih baik cari cara yang baik untuk menyampaikan masukan.

Jadi, untuk para Ibu lama dan Ibu baru, keep smile ya. It’s all worth it 🙂

 

 

2

Paspor Online dan Antrian Online

Pertengahan tahun 2016 saya harus memperpanjang paspor karena ada rencana ke Singapura bersama teman-teman kantor. Kebayang kewajiban menyebalkan di kantor imigrasi, yaitu mesti antri dari subuh, saya tiba-tiba inget sama tulisan di blog Trinity Traveler soal cara memperpanjang paspor secara online. Katanya sih lebih cepet, perlu dibuktikan nih.

Buru-buru saya cek link Paspor Online, berhasil masuk, saya mulai input data-data saya. Setelah selesai, saya dapet lembar untuk membayar biaya paspor ke bank terdekat. Setelah dapat bukti pembayaran dan sistem sudah mengonfirmasi, kita bisa pilih jadwal wawancara dan foto di kantor imigrasi. Saya pilih Kantor Imigrasi Jakarta Selatan di daerah Mampang karena letaknya relatif dekat dari kantor saya.

Di hari yang sudah ditentukan, saya datang sekitar jam 8 pagi membawa semua kelengkapan persyaratan, termasuk bukti registrasi Paspor Online dan bukti pembayaran. Naik ke lantai 2, ternyata sudah lumayan rame. Ambil nomor antrian dulu sambil dicek kelengkapannya oleh petugas terus tinggal tunggu dipanggil untuk wawancara dan foto. Selesai deh, tinggal nunggu paspor jadi 3 hari kemudian.

Yang menggembirakan, ternyata ada pilihan untuk ngirim paspor ke alamat kita, jadi ga perlu balik lagi ke kantor imigrasi hanya untuk ngambil paspor yang udah jadi. Enak kan? Lebih menggembirakan lagi, layanan ini gratis! Waktunya jadi 5 hari sih tapi ini jauh lebih praktis (daripada harus ijin 2 hari dari kantor) dan berlaku untuk semua pemohon, bukan khusus Paspor Online aja.

Saya summary-kan pengalaman saya mengurus Paspor Online yah:

Kelebihan 

  • Antriannya lebih sedikit dibanding antrian manual atau walk-in karena belum banyak yang milih opsi ini (karena belum terinformasi atau masalah akses internet). Ngga perlu dateng subuh-subuh buat antri, disesuaikan dengan jadwal pribadi aja. Dateng pagi dapet nomor antrian awal, dateng agak siang ya nomor antrian belakangan. Biasanya tiap hari disediakan kuota untuk >100 pemohon Paspor Online.
  • Disediakan informasi estimasi waktu pelayanan untuk semua nomor antrian, misal nomor 001-010 itu kira-kira dipanggilnya jam 08.00-08.30, 010-020 jam 08.30-09.00, dst. jadi bisa ngapain dulu gitu, ngantor dulu, muter-muter dulu, atau nungguin aja disitu.

Kelemahan 

  • Data yang harus diisi banyaaak banget, mungkin perlu sekitar 15-20 menit tanpa terganggu untuk nyelesainnya, belum termasuk loadingnya dan waktu untuk nanya Bapak Ibu kalo ada data ortu yang lupa. Kalo kelamaan kadang jadi harus ngulang lagi dari awal.
  • Yang nyebelinnya, udah nginput semua data capek-capek ke sistem, eh di kantor imigrasi harus ngisi lagi seabrek-abrek formulir secara manual. Yang dipake sama petugas yang kita isi pula. Terus apa gunanya data yang diinput secara online ke sistem oleh pemohon? Ngga efisien banget. Jujur saya kalang kabut ngisinya karena antrian sudah dimulai dan saya dapat nomor antrian awal.
  • Akses link Paspor Online suka susah diakses dan lama banget. Kadang kalau di luar jam kerja dan hari kerja juga malah ngga bisa diakses sama sekali. Padahal kalau mau tenang ngisinya ya pas weekend.

 

Overall, pilihan ngurus Paspor Online ini sebenarnya lebih memudahkan, terutama dari sisi antrian. Sayangnya, sejak akhir Tahun 2016 sampai sekarang, menurut keterangan petugas, websitenya masih dalam proses peremajaan, entah sampai kapan.

Berbekal pengetahuan kalau Paspor Online belum bisa lagi, awal September 2017 saya datang langsung ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk buat paspor anak saya. Berangkat jam 05.30 dari Bekasi, saya berasumsi sekarang semua antrian kategorinya manual atau walk-in. Harus buru-buru, mudah-mudahan belum rame dan dapet antrian prioritas karena yang mau buat paspor anak saya yang masih bayi. Jam 06.10 saya sudah sampai dan anehnya kantor imigrasi masih sepi dan tampak adem ayem. Apa jangan-jangan udah pada naik ke lantai 2 semua ya? Saya mendatangi petugas dan langsung ditanya,

“Ibu sudah Antri Online?”

“Hah, Antri Online gimana Pak?”

“Iya, Antri Online lewat aplikasi atau web. Sudah sejak bulan Mei 2017. Sekarang semuanya begitu, jadi tidak bisa langsung datang. Coba aja sekarang, Bu, saya bantuin.”

Saya terhenyak, udah berangkat pagi-pagi bawa bayi harus pulang dengan tangan hampa. Sebelumnya saya sempet baca sekilas sih soal Antri Online, tapi kirain pilihan aja, kaya semacam Paspor Online juga. Eh, ternyata wajib! Duh, buru-buru saya registrasi online. Ya ampun, dapet jadwalnya 2 minggu lagi! Padahal perlu cepet jadi, huhu.. Belum putus harapan, saya langsung mengarahkan diri ke Kantor Imigrasi Bekasi yang sebelumnya tidak menjadi pilihan utama saya karena kabarnya antriannya lebih heboh. Sepertinya disana belum berlaku Antri Online soalnya belum ada pilihannya di web Ditjen Imigrasi, mudah-mudahan. Eh, ternyata salah! udah berlaku juga, tapi ngantrinya di link khusus kantor imigrasi Bekasi, dan jadwal tercepat malah 3 minggu lagi karena kelas 2 jadi kuotanya lebih sedikit.

Huaa.. Yasudahlah, pasrah nunggu 2 minggu lagi untuk ngurus di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan karena setelah ngecek-ngecek lagi di rumah, itu jadwal paling cepet di seluruh kantor imigrasi di Jakarta!

Menjadi pelajaran ya buat semuanya. Buat saya, pembelaannya sih, karena sejak hamil besar dan cuti melahirkan jadi kurang update informasi makanya ketinggalan berita. Tapi buat yang lain jangan kaya saya ya. Penting banget googling pengalaman orang sebelum mengurus segala sesuatu sendiri.

Saya lihat emang lebih tertib sih dan meminimalisir calo (belum menghilangkan karena saya tau masih ada yang melayani jasa di luar sistem) tapi artinya ngurus paspor sekarang ngga bisa dadakan, harus direncanakan jauh-jauh hari, kalau ngga ya kaya saya, yang gigit jari baru bisa dapet jadwal 2 minggu setelahnya.

Enaknya, ngisi formulirnya sekarang cukup 1 halaman aja, informasi pribadi dan orangtua (nama lengkap, alamat, tanggal lahir) dan formulir tambahan sesuai kebutuhan. Saya yang udah buru-buru karena inget pengalaman sebelumnya langsung lega karena cuma butuh 5 menit aja buat ngisi formulir.

Sayangnya sekarang semua paspor harus diambil sendiri ke kantor imigrasi, udah ngga ada layanan dikirim ke alamat kita. Harus balik lagi kesana deh 3 hari lagi.

Yaah mudah-mudahan ini semua untuk perbaikan sistem yah. Mudah-mudahan layanan pengurusan paspor bisa semakin baik lagi ke depannya.

 

Catatan penting

  • Fotokopi semua kelengkapan persyaratan di A4 tanpa dipotong. Kalo ada yang salah fotokopi, ngga usah khawatir, ada tempat fotokopi di pojok kiri belakang ruangan.
  • Ada formulir tambahan (beli di tempat fotokopi) yang perlu diisi untuk pemohon paspor yang masih di bawah umur (surat ijin orang tua) atau kalau mau nambah nama, misal dari 2 suku kata jadi 3 suku kata untuk mempermudah kalau berangkat haji atau umroh. Saya nambah nama ayah di paspor saya yang baru. Setelah jadi, keterangan penambahan nama saya jadi 3 suku kata ada di catatan pengesahan. Sementara di lembar utama tetap sesuai akte kelahiran dan kartu identifikasi lainnya.

 

 

0

Belajar masak

niat-kemauan-modal-utama-saat-belajar-masak-2eqerk2zzv

Memasak harusnya jadi kemampuan dasar yang saya kuasai. Tapi saya ngga pernah terlalu tertarik buat memasak sampai saat ini, setelah nikah dan punya rumah sendiri. Mungkin karena jadi kebutuhan ya, tinggal cuma berdua sama suami plus sama yang beberes, siapa lagi yang mesti nyiapin makanan kalau bukan saya.

Saya ngga tiap hari masak, kalau lagi pengen aja. Untungnya suami juga ngga nuntut macem-macem, mungkin karena tau kemampuan saya masih sangat terbatas, haha.. Kalau mesti beli ya beli aja, banyak pilihan juga di deket rumah.

Kalo dipikir-pikir, ketidaktertarikan saya sama masak-memasak sebenernya bisa jadi karena dari kecil udah ada bibi yang ikut keluarga. Saya terbiasa tinggal makan aja, kalaupun bantu paling yang remeh temeh aja.

Bahkan setelah kuliah pun, bisa dibilang pengetahuan memasak saya nol besar. Paling mentok bikin telor. Goreng-goreng pun saya suka ragu, ini teh udah mateng belum yaa.. Waktu kuliah di luar, karena yang makan cuma saya sendiri dan di dorm ada oven, biasanya saya belanja yang praktis-praktis aja, yang tinggal masukin ke oven. Paling mentok ngungkep ayam pake bumbu instan bawa dari Indo terus tinggal goreng aja.

Makanya pas ada acara di kampus, dimana tiap perwakilan negara harus nyiapin makanan khas negaranya, saya panik karena ga pernah masak heboh apalagi untuk skala yang lumayan besar kaya gitu. Saya akhirnya memutuskan bikin mie goreng, lengkap pake sayuran dan daging ayam. Tapi batch pertama gagal, jadi mie goreng seabrek-abrek itu saya buang, huhuu.. Terus bikin lagi dan alhamdulillah sukses dapet pujian orang-orang.

Setelah nikah baru deh mau ngga mau belajar masak. Karena masih tinggal sama keluarga suami, jadi saya berguru sama Ibu mertua saya yang jago masak. Kebetulan selera keluarga suami saya masakan rumahan Indonesia, jadi saya belajar bikin bumbu kuning dan bumbu balado yang bisa dipake buat bikin segala macem, mulai dari opor, ngungkep ayam, sambel goreng kentang, nasi goreng, ayam cabe, dsb. Tapi karena di rumah Ibu mertua saya ada bibi juga jadi keterlibatan saya tetep terbatas juga.

Baru deh setelah pindah ke rumah sendiri, mau ngga mau semuanya harus dikerjain sendiri, mulai dari belanja bumbu dan bahan ke pasar, nyuci, bersihin, motong-motong, ngulek sampe masaknya. Suka rada ragu juga sih ini bumbunya udah pas belum ya, tapi karena yang makan cuma saya sama suami jadi saya pede-pede aja. Beda kalo masak di rumah keluarga suami yang anggotanya banyak, saya suka ngga pede takut ngga sesuai selera semua orang, hehe..

Sekarang alhamdulillah udah bisa masak lumayan banyak, mulai dari opor, kari daging, beef teriyaki, ayam kecap, ayam ungkep, sayur, sop, sambel goreng ati, dll. Itu juga kadang ada yang pake bumbu jadi beli di supermarket atau pasar. Emang sih masih belum secanggih Ibu mertua saya tapi alhamdulillah yang penting suami mau makan udah seneng, apalagi muji, hehe..

Target selanjutnya saya mau belajar bikin rawon dan sop buntut. Tapi karena belum punya panci prestonya jadinya belum berani eksperimen di rumah sendiri. Kalo ini harus berguru khusus dulu deh sama Ibu mertua saya.

Ibu saya sebenernya jago masak juga tapi karena saya masakin buat suami, khawatir seleranya beda sama yang dia biasa makan di rumah. Jadi resep makanan yang biasa dimasakin Ibu, saya masak dengan porsi lebih sedikit, takut ngga abis.

Tapi saya bisa dengan pede bilang kalo Ibu saya lebih banyak eksperimen di kue, puding, dan masakan lain kaya tom yum, pasta, sushi, takoyaki, suki, dll. Tapi lagi, karena Ibu saya seringnya jauh dan saya juga baru pindahan jadi peralatan masak masih terbatas, saya belum terlalu fokus untuk berguru masak sama Ibu saya.

Melihat kemampuan masak 2 Ibu saya yang mantap, seharusnya saya bisa memanfaatkan seoptimal mungkin ya untuk belajar.  Hikmah yang saya ambil dari sini, nanti kalo punya anak cewek harus saya ajarin masak sejak dini, biar bisa survive, terampil dan ngga kelabakan pas gede kaya saya.

 

0

Pregnancy+

Buat ibu-ibu yang baru pertama hamil kaya saya, saya saranin download aplikasi Pregnancy+ deh di HP. Membantu banget. Kan banyak tuh yang udah tau hamil pas masih awal-awal sambil ga tau apa-apa tea tapi buat nanya-nanya ke orang lain atau bahkan ke keluarga sendiri kok kaya terlalu awal juga yah. Nah, ini dia solusinya! (iklan pisan, kaya yang di-endorse aja haha..)

Tapi beneran deh, aplikasi ini lengkap banget infonya, dari apa yang terjadi tiap hari dan tiap minggunya sama tubuh dan jabang bayi kita saat hamil, panjang dan berat standar si bayi, ukurannya kira-kira udah segede apa tiap minggu, foto USG 2D dan 3D bayi, tracking berat badan kita, sampe tempat nyatet jadwal kunjungan ke dokter dan ide nama-nama bayi cewek atau cowok.

Saya yang tinggalnya jauh dari Ibu dan ga bisa setiap saat nanya juga ke Ibu mertua, terbantu banget sama segala informasi yang disediakan aplikasi ini. Di saat saya bingung ini badan kok rasanya gini ya. Mau nanya entar ketauan hamil, padahal belum mau bilang-bilang. Diem-diem aja malah panik dan khawatir sendiri. Eh, alhamdulillah info yang disediain hari itu ternyata ngejelasin tentang hal yang lagi saya pertanyakan itu. Jadi saya juga bisa cerita ke suami kalo ternyata keluhan saya yang kemarin-kemarin itu penyebabnya begini looh, blablablabla.. suami jadi ngga was-was lagi.

Tapi sayangnya, aplikasi ini cuma free sampai hari ke-99, begitu saya mau buka hari ke-100 ternyata harus bayar, hiks.. Sempet berkontemplasi beberapa lama sih, seminggu lebih ada kayanya, kira-kira worth it ngga sih bayar buat aplikasi ini, abis ngga punya kartu kredit. Tapi karena udah jadi kebiasaan tiap hari untuk ngecek info disini, selama beberapa hari ngga bisa akses aplikasi saya jadi merasa sedikit kehilangan arah, akhirnya bilang ke suami buat pinjem kartu kredit dan bayar kelanjutannya sampe tamat (ngelahirin). Harganya kalo ngga salah Rp 69ribu.

Begitu udah bisa diakses lagi, saya ngebut baca info seminggu terakhir yang saya ketinggalan dan nyesel banget kenapa pake mikir lama buat bayar aplikasi ini. Keluhan-keluhan saya selama seminggu terakhir ternyata ada jawabannya disini. Tapi yaudahlah, yang penting udah bisa lagi.

Lewat aplikasi ini saya juga jadi bisa ngebandingin berat badan bayi saya sama standar normalnya harusnya segimana. Eh ternyata, dari awal berat bayi saya udah jauh meninggalkan standar, haha.. Saya segala dimakan sih, soalnya ngga ada yang bikin mual atau muntah, semua makanan enak dan saya makan semua yang enak, hehe..

Picture1

Tapi paling kaget waktu kontrol di minggu ke-34, dokternya bilang minggu ini standarnya 2300-2400 gram ya Bu, eh anak saya ternyata 2600 gram lebih. Saya inget-inget lagi, terakhir kontrol itu hampir sebulanan yang lalu karena dokternya cuti makanya saya jadi ngerasa agak bebas dan banyak makan-minum yang dingin dan manis. Abisnya makin lama makin gerah banget, dan hanya makanan-minuman dingin manis yang bisa menyegarkan dahaga dan bikin saya hepi lagi. Eh, anaknya malah jadi kegedean. Dokter terus wanti-wanti, 2 minggu lagi beratnya saya harap tetep di kisaran ini yah. Waduh, gimana caranya ya dok?

2 minggu selanjutnya saya lewati dengan was-was, makan ngga tenang tapi tetep banyak, minuman dingin manis saya kurangiiin banget. Begitu kontrol, alhamdulillah berat badan saya ngga berubah jauh dari 2 minggu lalu, tapi begitu dicek dokter, eh anaknya ko malah nambah 300 gram jadi 2,9 kg!! Lemes deh sama panik. Harus gimana lagi biar anaknya ngga naik drastis berat badannya. Mana gula darah saya rendah, jadi kaya simalakama: kurang makan, berat anaknya ngga naik tapi saya pusing banget. Kalo makan, berat anaknya naik tapi saya seger. Emang lebih gampang itu naikin daripada nurunin yah.

“Ibu, ini anaknya udah 2,9 kg di minggu ke-36. Kalau mau lahir normal, jangan kegedean anaknya nanti Ibu susah ngeluarinnya. Mulai sekarang minumnya air putih aja, kurangin nasi dan yang manis-manis.”, dokter ngasih wanti-wanti lagi.

Hari pertama kedua setelah kontrol, saya jadi ngga makan nasi sama sekali tapi banyakin sayur dan lauk. Ibu saya yang udah mulai nemenin di rumah semenjak saya cuti terus nawarin nasi karena khawatir asupan nutrisi saya malah kurang tapi saya tetep nolak.

Tapi emang dasar lidah orang Indonesia ya, hari ketiga keempat saya ngga kuat terus makannya heboh lagi pake nasi porsi normal. Untungnya hari Sabtu, pas saya jadwal kontrol itu, hari pertama puasa Ramadhan ini, jadi saya ikutan puasa deh sambil khawatir jangan-jangan anaknya udah 3 kg lebih soalnya saya ngerasa perut saya makin gede aja kesini-kesini.

Begitu ketemu dokter, ditanya, “Berat bayinya minggu lalu berapa sih?”

“Kalo ngga salah 2,914 kg deh dok.”

“Ibu puasa?”

“Iya dok.”

“Bagus bagus,  ini berat anaknya turun dikit sih jadi 2,8 kg”

Wah, artinya sesuai standar berat bayi 37 minggu di Pregnancy+!! Alhamdulillah, senengnya luar biasa. Artinya seminggu ke depan saya bisa makan dengan tenang, haha.. Ternyata puasa ngaruh banget yah. Saya beberapa kali ngajak ngobrol bayi saya mencoba ngasih pengertian dan nguatin dia juga supaya ngga kaget diajak puasa.

Udah dari 3 minggu lalu dokter juga nanyain apa ASI saya udah keluar. Sayangnya belum sampe sekarang, khawatir lagi deh. Kenapa yah? Saya udah rajin bersihin, udah banyakin sayur tapi belum ada tanda-tanda kesitu. Dokter akhirnya nyaranin supaya frekuensi makan vitamin pelancar ASI-nya ditambahin jadi 2x sehari. Mudah-mudahan berhasil deh.

Minggu depan pas jalan 38 minggu, jadwalnya saya periksa panggul untuk menentukan apa saya bisa lahiran normal dan berapa baiknya ukuran bayi saya supaya bisa keluar dengan lancar lewat panggul saya. Sejauh ini sih dari hasil kontrol, posisi bayi saya kepalanya udah di bawah dan udah masuk rongga panggul makanya kadang kerasa sensasi keteken-keteken gitu. Artinya sebentar lagi nih, deg-degan deh.

Bismillah… Semoga dilancarkan dan diberi kemudahan. Mohon doanya ya 🙂

 

0

Maternity Leave

Some would prefer to start it as close as possible to the due date while I just want to start it as soon as I can regardless my due date.

I feel like my body and mental health can’t take it anymore.

This is my first pregnancy and I don’t know what to expect, or to be precise, what exactly I would face any time sooner.

I want to prepare my mind and body for whatever that will come, instead of facing workload at office and terrible traffic on my way to work and after.

I just hope my baby will come at the right time. Meanwhile, I’m doing everything I can to meet her sooner.

Yes, it’s a girl 🙂

0

Pregnancy without (too much) hassle

Alhamdulillah, sekarang udah masuk 7 bulan kehamilan. Kalau diinget-inget 7 bulan lalu gimana taunya lucu juga.

pregnant-woman-outline_23-2147501964

“Mmmm, aku tidak tau harus bereaksi bagaimana”, suami saya cengar-cengir salting waktu saya pertama kali ngabarin kalau saya hamil.

Saya bengong, speechless.

Mempertimbangkan karakter suami yang emang lempeng, saya emang ngga berharap dia bereaksi kaya di film-film dimana sang pemeran suami berteriak gembira lalu memeluk dan menggendong pemeran istri (ga bakal kuat juga sih).

Tapi saya berharap, at least, dia bilang, “Alhamdulillah, semoga blablabla…”, pokoknya yang menyejukkan hati deh, tapi ini ngga.

Terus saya jadi bete, haha..

Tapi terus saya mikir, kami sebelumnya pacaran 7 tahunan haha hihi huhu hehe terus. Setelah nikah, dalam waktu kurang dari 1 tahun banyak hal-hal yang jadi lebih serius, salah satunya ini dan wajar kalau dia kaget. Menjadi orangtua juga kan bukan tanggung jawab yang ringan. Banyak yang harus dipersiapkan. Dan setelah menikah, kami juga sebenernya sepakat untuk berdua dulu aja selama setahun pertama tapi tidak menunda untuk menerima kepercayaan seperti ini (previous post).

Tapi, seiring bulan demi bulan kandungan saya membesar, tanpa perlu kata-kata, saya tahu kalau suami jadi lebih considerate sama saya, walaupun agak ngedumel dikit, hehe.. Karena sebelumnya apa-apa saya ladenin, sekarang kalau di rumah jadi gantian ngeladenin. Dulu lebih sering dipijetin sekarang gantian mijetin karena badan saya sering pegel-pegel dan sakit pinggang. Dulu suka minta digarukin kalau punggung gatel, sekarang saya yang gantian minta digarukin karena tangan akrobat dikit suka kram. Dulu kalo pulang ngantor nyetir pusing terus minta gantian, sekarang ditawarin gantian nolak.

Tapi, alhamdulillah, walaupun banyak orang bilang kalau lagi hamil itu macem-macem ceritanya, lebih sensitif terutama, saya ngerasa biasa aja tuh (padahal ngga nyadar orang-orang di sekeliling ngerasanya gimana. Kalau saya lagi nyebelin itu sih emang dari dulu. Kalo lebih nyebelin lagi ya emang aslinya begitu, haha.. Bukan karena lagi hamil aja).

icon_lol

Saya happy-happy aja selama hamil. Malah yang dulu dikit-dikit berantem atau debat sama suami sekarang bisa diitung sama jari berapa kali marahnya selama hamil ini. Tapi pernah sih waktu itu entah kenapa, hormon lagi memuncak (yak, salahkan saja hormon) terus ngamuknya ruarrr biasaaaa.. Suami saya juga iseng sih orangnya (yak, pokoknya bukan salah saya)

Jadi ceritanya waktu itu lagi di jalan pulang, terus saya seperti biasa kan ngobrol sama suami terus nanya,

“Tadi siang makan apa, Jo?” (Bojo – Bahasa Jawa suami)

“Mmmmmm, kasih tau ngga yaaa?” biasaa tengil.

“Makan apaaaaa???” ga sabar.

“Coba tebaaak…”

Terus saya mulai nebak segala macem mulai dari Yoshinoya, Hokben sampe soto ayam, tapi ga ada yang bener.

“Makan apaaaaaaa…..!!!” mulai naik darah.

“Tebaaak….” masih nyebelin ga mau ngasitau.

“Tiga huruf..” mulai ngasih clue, tapi namanya lagi hamil, kadang otak suka agak susah dipake mikir.

“Tiga huruf..???” saya mikir tapi ga ada ide blas!

“Apa siiiiiihhhh? ABC? DEF?” saya mulai naik darah lagi.

“Masa ga tau sih, coba tebaak..” sekarang pake cengar-cengir.

Karena sebel saya manyun, biarin aja ah paling nanti juga ngasitau sendiri. Tapi entah kenapa waktu itu tuh saya rasanya kepo bingiiiiittttsss, pengen tau dia makan apa tadi siang. Sampe akhirnya ga ketahan lagi, saya nangis sejadi-jadinya terus pake mukul-mukul dan nyubit-nyubit padahal suami saya lagi nyetir di jalan.

“Kamu tuh jangan permainkan akuuuuu, huaaaa… aku tuh pengen tau kamu makan apaaaa, huaaaaa….” drama banget.

Suami saya kaget ngeliat saya marahnya sebegininya. Dia dieeem ajaa..

Sambil nangis tersedu-sedu saya masih mikir, tiga huruf apa sih yang suka dimakan suami saya. Ada kali 15 menit mikir ditambah manyun, baru deh keinget, KFC!!!!

Saya diem aja, terus pelan-pelan tangisnya reda, tapi masih bete.

Abis suami saya minta maaf terus saya dijajanin daging steak rib-eye (mureh anaknya) terus saya ngga bete lagi deh.

Yaah begitulah cerita marahnya, cuma itu aja yang parah.

Ngidam aneh-aneh juga ngga, cuma makan aja terus, dan pengen yang enak-enak (iya, kaya steak rib-eye yang dicoret tadi). Alhamdulillah masih bisa dibeliin suami atau dijangkau gojek. Mual juga kalau laper atau telat makan aja. Paling akhir-akhir ini heartburn dikit tapi disendawain terus dikasih yang anget-anget udah deh sembuh.

Pada satu kesempatan, pernah sampe Ibu mertua saya jawab gini waktu saya ditanyain Tante ngidam apa,

“Dia mah ngebo, enak wes.”

Saya kaget. Iya sih, saya suka ngebo, tidur terus, kalo weekend bangun kesiangan, kurang banyak bantuin di rumah tapi parah banget ya ma sampe dikatain ‘kebo’? 😥

Usut punya usut, ternyata artinya ngebo buat orang Jawa itu ya yang hamilnya ngga banyak permintaan kaya saya, ngga ngidam aneh-aneh, ngga mual parah. Kalo di Sunda kan istilah kebo buat ngatain yang pemalesan, yaa emang jadi males sih soalnya berasa capek terus (halah, alasan).

Tapi yang paling bikin saya shocked adalah stretchmark di perut bawah. Dari awal hamil udah pernah dibilangin sih kalo gatel jangan digaruk, jadi saya rajin pake body butter. Tapi gatelnya paraaaahh, udah pake body butter juga tetep aja ngga ketahan jadi sadar ngga sadar saya suka garukin dari luar. Taunya setelah ngaca (kayanya pas 6 bulanan) udah bergurat-gurat merah, coklat, ungu doooongg, hikss.. sedih, balikinnya gimana yah.

Katanya sih nanti warnanya memudar tapi guratan-guratannya ga akan ilang.

die

Ya udahlah gimana entar aja.

Karena udah lewat 28 minggu, saya udah mulai ikut senam hamil juga. Terus ketemu sama banyak ibu-ibu muda yang senasib perutnya, haha.. Terus ngobrol sama salah satunya,

“Udah berapa minggu, mbak?” saya nanya memulai percakapan.

“Saya udah 30 minggu.”

“Wah, mau masuk 8 bulan dong yah”

“Eh, enggak! Saya bulan kemarin baru 6 bulan kok”

“Loh, 6×4 kan 24, 8×4 = 32”

“Masa sih, bukannya 6×4 = 32 yah?”

“Bukaaaaaaan, 6×4 = 24!!”

“Hah? Iya yah, salah dong saya. Maklum lah ya, kalo hamil suka agak dong-dong”

Iya deeeeeehh, seenggaknya saya bukan yang paling parah, hihihiii…

con_redface

Entar lanjut lagi ya ceritanya, hehe…